Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

POLITIKAL NEWS

Poros Barito

Technology

KRIMINALITAS

ANTI KORUPTOR

Sports

POROS KALTENG

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Jakarta Paling Rendah

Lingkungan kotor akibat sampah di Jakarta Utara
Tarakan - Perlu ada pengendalian transportasi untuk meminimalisir pengaruh lingkungan terhadap ibukota Jakarta. Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, indeks kualitas lingkungan hidup DKI Jakarta paling rendah dibandingkan daerah lain.

Salah satu penyebabnya menurut Gusti, adalah emisi gas buang kendaraan di Jakarta yang sangat tinggi, terlebih bila terjadi kemacetan. "Sehingga IKLH DKI Jakarta lebih rendah dibandingkan daerah lainnya," ungkap Menhut, usai menanam pohon perdana dalam acara Penanaman Sejuta Pohon di Kota Tarakan, Kalimantan Timur, kemaren, Sabtu (29/1).

Namun dari semua penyebab, yang menjadi faktor utama rendahnya IKLH adalah penutupan lahan, kualitas air dan kualitas udara. Menurutnya, kualitas udara di kota besar kurang baik akibat emisi gas buang kendaraan yang tinggi.

"Salah satu upaya untuk mengendalikan emisi gas buang kendaraan, yakni dengan pengendalian transportasi," timpalnya.

Menurut Gusti, untuk ibukota Jakarta, seharusnya digalakkan penggunaan transportasi massal, agar bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Bila tidak disediakan, maka masih ada alasan bagi masyarakat untuk tidak naik transportasi massal.

Menyinggung upaya Pemprov DKI Jakarta menyediakan beberapa transportasi masal, Gusti menilai masih belum optimal. Hal itu karena masih kurangnya armada disedikan, yang sangat tak sebanding dengan masyarakat pengguna transportasi masal tersebut.

Sementara itu, data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukan indeks kualitas lingkungan hidup DKI Jakarta di tahun 2008 cuma 35,31 persen. Tentu jumlah yang sangat rendah bila dibandingkan dengan sejumlah provinsi lainnya di tanah air.

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Jakarta Paling Rendah

Lingkungan kotor akibat sampah di Jakarta Utara
Tarakan - Perlu ada pengendalian transportasi untuk meminimalisir pengaruh lingkungan terhadap ibukota Jakarta. Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, indeks kualitas lingkungan hidup DKI Jakarta paling rendah dibandingkan daerah lain.

Salah satu penyebabnya menurut Gusti, adalah emisi gas buang kendaraan di Jakarta yang sangat tinggi, terlebih bila terjadi kemacetan. "Sehingga IKLH DKI Jakarta lebih rendah dibandingkan daerah lainnya," ungkap Menhut, usai menanam pohon perdana dalam acara Penanaman Sejuta Pohon di Kota Tarakan, Kalimantan Timur, kemaren, Sabtu (29/1).

Namun dari semua penyebab, yang menjadi faktor utama rendahnya IKLH adalah penutupan lahan, kualitas air dan kualitas udara. Menurutnya, kualitas udara di kota besar kurang baik akibat emisi gas buang kendaraan yang tinggi.

"Salah satu upaya untuk mengendalikan emisi gas buang kendaraan, yakni dengan pengendalian transportasi," timpalnya.

Menurut Gusti, untuk ibukota Jakarta, seharusnya digalakkan penggunaan transportasi massal, agar bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Bila tidak disediakan, maka masih ada alasan bagi masyarakat untuk tidak naik transportasi massal.

Menyinggung upaya Pemprov DKI Jakarta menyediakan beberapa transportasi masal, Gusti menilai masih belum optimal. Hal itu karena masih kurangnya armada disedikan, yang sangat tak sebanding dengan masyarakat pengguna transportasi masal tersebut.

Sementara itu, data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukan indeks kualitas lingkungan hidup DKI Jakarta di tahun 2008 cuma 35,31 persen. Tentu jumlah yang sangat rendah bila dibandingkan dengan sejumlah provinsi lainnya di tanah air.

Limbah Rumah Sakit Ganggu Warga Sunter Agung

Limbah Rumah Sakit
Jakarta - Kesannya saja, orang kesehatan itu berprilaku sehat. Tapi kenyataannya malah lebih jorok dibanding warga. Bayangkan, limbah berbagai macam rumah sakit malah dibuang ke dalam bak sampah milik warga yang ditempatkan di lahan terbuka umum.

Prilaku jorong pihak rumah sakit ini dirasakan oleh warga Sunter Agung, Jakarta Utara. Akibatnya lingkungan warga setempat jadi tercemar karena limbah rumah sakit rata-rata dari bahan berbahaya (zat kimia). Merasa dirugikan, warga setempat pun mengadukan hal itu ke anggota DPRD DKI Jakarta.

Selain menolak tempat sampah mereka dijadikan pembuangan limbah rumah sakit, warga RW016 Kelurahan Sunter Agung Kecamatan Tanjung Priok, Jakut juga mengadukan keberatannya terhadap rencana pengembangan pembangunan rumah sakit setempat.

Asumsi warga pembangunan tak disertai penyediaan lahan parkir, selain itu, rumah sakit saat ini sudah berdempetan dengan dinding rumah warga setempat. "selama ini pihak RS selalu bertindak seenaknya, tanpa meminta persetujuan warga.

"Limbahnya dibuang ke bak sampah di lingkungan warga. Limbah dibuang menggunakan gerobak sampah milik warga. Ini jelas mencemarkan lingkungan," kata Hartono Gani, salah satu perwakilan warga, kemaren.

Pihak Hartono juga tak terima bila pembangunan rumah sakit tak disertai penyediaan lahan buat parkir kendaraan dan mobil. Sebab yang sudah-sudah, kendaraan diparkir berdempean yang menyebabkan lalulintas kawasan setempat kadang macet.

"Kita tak habis pikir, kenapa tempat berbelok arah dimedian jalan didepan rumah sakit malah ditutup. Karena semenjak tak adalagi tempat memuar arah, bila hendak ke rumah sakit atau tempat lainnya dikawasan itu, warga terpaksa harus mencari jalur belokan yang lokasinya cukup jauh.

Pengaduan warga mendapat respon positif dari anggota DPRD DKI Jakarta Utara. Melalui juru bicara koordinator Komisi E DPRD Jakarta Utara, yang juga Wakil ketua DPRD DKI Jakarta Utara, wakil rakyat berencana memanggil pihak rumah sakit secepatnya.

"Langkah pertama yang pasti, kita akan tinjau lokasi yang menjadi keberatan warga. Bila benar limbah rumah sakit dibuang sembarangan oleh petugas jada, tentu, katanya, harus mendapat sanksi tegas. "Sama halnya dengan rencana pembangunan Rumah Sakit, bila kami temukan ada kejanggalan atau melanggar aturan, kami sarankan agar segala macam perizinan mereka harus dicabut," pungkasnya.

Limbah Rumah Sakit Ganggu Warga Sunter Agung

Limbah Rumah Sakit
Jakarta - Kesannya saja, orang kesehatan itu berprilaku sehat. Tapi kenyataannya malah lebih jorok dibanding warga. Bayangkan, limbah berbagai macam rumah sakit malah dibuang ke dalam bak sampah milik warga yang ditempatkan di lahan terbuka umum.

Prilaku jorong pihak rumah sakit ini dirasakan oleh warga Sunter Agung, Jakarta Utara. Akibatnya lingkungan warga setempat jadi tercemar karena limbah rumah sakit rata-rata dari bahan berbahaya (zat kimia). Merasa dirugikan, warga setempat pun mengadukan hal itu ke anggota DPRD DKI Jakarta.

Selain menolak tempat sampah mereka dijadikan pembuangan limbah rumah sakit, warga RW016 Kelurahan Sunter Agung Kecamatan Tanjung Priok, Jakut juga mengadukan keberatannya terhadap rencana pengembangan pembangunan rumah sakit setempat.

Asumsi warga pembangunan tak disertai penyediaan lahan parkir, selain itu, rumah sakit saat ini sudah berdempetan dengan dinding rumah warga setempat. "selama ini pihak RS selalu bertindak seenaknya, tanpa meminta persetujuan warga.

"Limbahnya dibuang ke bak sampah di lingkungan warga. Limbah dibuang menggunakan gerobak sampah milik warga. Ini jelas mencemarkan lingkungan," kata Hartono Gani, salah satu perwakilan warga, kemaren.

Pihak Hartono juga tak terima bila pembangunan rumah sakit tak disertai penyediaan lahan buat parkir kendaraan dan mobil. Sebab yang sudah-sudah, kendaraan diparkir berdempean yang menyebabkan lalulintas kawasan setempat kadang macet.

"Kita tak habis pikir, kenapa tempat berbelok arah dimedian jalan didepan rumah sakit malah ditutup. Karena semenjak tak adalagi tempat memuar arah, bila hendak ke rumah sakit atau tempat lainnya dikawasan itu, warga terpaksa harus mencari jalur belokan yang lokasinya cukup jauh.

Pengaduan warga mendapat respon positif dari anggota DPRD DKI Jakarta Utara. Melalui juru bicara koordinator Komisi E DPRD Jakarta Utara, yang juga Wakil ketua DPRD DKI Jakarta Utara, wakil rakyat berencana memanggil pihak rumah sakit secepatnya.

"Langkah pertama yang pasti, kita akan tinjau lokasi yang menjadi keberatan warga. Bila benar limbah rumah sakit dibuang sembarangan oleh petugas jada, tentu, katanya, harus mendapat sanksi tegas. "Sama halnya dengan rencana pembangunan Rumah Sakit, bila kami temukan ada kejanggalan atau melanggar aturan, kami sarankan agar segala macam perizinan mereka harus dicabut," pungkasnya.

Lingkungan Akibat Tambang Rusak Parah

Bekas Penambangan Timah di Bangka Belitung
NAMANG – Aktivitas penambangan biji Timah di Bangka Belitung dapat kritikan dari Wakil Presiden RI, Boediono. Dia kawatir kegiatan penambangan didaerah itu mengakibatkan kerusakan parah pada lingkungan setempat.

Karenanya, Boediono berharap, adanya evaluasi secara obyektif terhadap aktivitas pertambangan timah didaerah itu, agar tak sampai merusak lingkungan setempat. Boediono mengatakan hal itu disela kunjungan kerja ke lokasi tambang Timah di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (22/1/2-11).

“Saya datang ke sini juga untuk mengecek secara langsung permasalahan-permasalahan yang timbul dari aktivitas pertambangan disini,” kata Boediono.

Berdasarkan informasi, usaha andalan masyarakat setempat hingga sekarang masih tergantung pada penambangan biji Timah. Perekonomian setempat mampu terangkat oleh melimpahnya potensi biji Timah didaerah itu.

Hanya sayangnya, akibat ekploitasi besar-besar yang tanpa memperhatikan aspek lingkungan, menyebabkan kerusakan hutan setempat cukup parah. Sementara belum terjadi bencana alam akibat parahnya kerusakan hutan, diharapkan masyarakat setempat mulai melakukan pembenahan cara menambang, setidanya tidak sampai merusakan terlalu parah lingkungan setempat.

Boediono, dalam kesempatan kunjungan kerjanya itu, berharap agar masyarakat mulai mencari alternatif usaha lain. Selain berpotensi merusak lingkungan setempat, potensi timah bisa habis. Bila tak diantisifasi mulai sekarang, ditakutkan masyarakat bingung mencari pekerjaan lain, bila potensi timah diderah itu benar-benar menipis.

Lingkungan Akibat Tambang Rusak Parah

Bekas Penambangan Timah di Bangka Belitung
NAMANG – Aktivitas penambangan biji Timah di Bangka Belitung dapat kritikan dari Wakil Presiden RI, Boediono. Dia kawatir kegiatan penambangan didaerah itu mengakibatkan kerusakan parah pada lingkungan setempat.

Karenanya, Boediono berharap, adanya evaluasi secara obyektif terhadap aktivitas pertambangan timah didaerah itu, agar tak sampai merusak lingkungan setempat. Boediono mengatakan hal itu disela kunjungan kerja ke lokasi tambang Timah di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (22/1/2-11).

“Saya datang ke sini juga untuk mengecek secara langsung permasalahan-permasalahan yang timbul dari aktivitas pertambangan disini,” kata Boediono.

Berdasarkan informasi, usaha andalan masyarakat setempat hingga sekarang masih tergantung pada penambangan biji Timah. Perekonomian setempat mampu terangkat oleh melimpahnya potensi biji Timah didaerah itu.

Hanya sayangnya, akibat ekploitasi besar-besar yang tanpa memperhatikan aspek lingkungan, menyebabkan kerusakan hutan setempat cukup parah. Sementara belum terjadi bencana alam akibat parahnya kerusakan hutan, diharapkan masyarakat setempat mulai melakukan pembenahan cara menambang, setidanya tidak sampai merusakan terlalu parah lingkungan setempat.

Boediono, dalam kesempatan kunjungan kerjanya itu, berharap agar masyarakat mulai mencari alternatif usaha lain. Selain berpotensi merusak lingkungan setempat, potensi timah bisa habis. Bila tak diantisifasi mulai sekarang, ditakutkan masyarakat bingung mencari pekerjaan lain, bila potensi timah diderah itu benar-benar menipis.

Muhammad Khalid, Pejuang Lingkungan Tembilahan

  • Telah Menanam Ribuan Pohon di Tembilahan
Muhammad Khalid  (Poto:RiauTerkini)

Tembilahan (Suarapublic.Com) - Jarang ada orang yang rela berkorban untuk kemaslahatan orang banyak dimasa sekarang ini. Tapi bagi Muhammad Khalid (52), memberikan manfaat bagi orang sekeliling adalah sudah jalan hidupnya.

warga Jalan Lingkar Tembilahan itu rela wajah tuanya tersengat terik matahari hanya untuk menanam lebih banyak pohon dilingkungannya tempat tinggalnya. Bahkan tak terhitung sudah jumlah pohon telah ditanamnya sejak dirinya fokus mengambdikan diri bagi kelsetarian lingkungan.

"Rasanya ribuah pohon," katanya singkat, saat berbincang dengan beberapa wartawan setempat, disela melakukan gerakan menanam kembali pohon penghihajau di daerahnya Minggu (15/1/11).

Penanaman pohon untuk penghijauan dilakukan Khalid sejak pagi. Hingga pukul 10.00 WIB, Minggu (15/1/11), ratusan pohon berhasil ditanamnya. Jenis pohon macam-macam, namun kali ini dia menanam bibit pohon Angsana di pinggiran dan median Jalan Veteran yang baru selesai dibangun.

Hanya bermodal sebuah linggis, puluhan bibit pohon Angsana disampingnya berdiri tegak dipinggiran jalan itu. “Kali ini saya pilih bibit pohon Angsana karena memiliki daun rimbun. Bila sudah besar nanti, daunya bisa buat orang atau pengguna jalan kaki berteduh,” katanya.

Dikalangan pencinta lingkungan didaerahnya, Khalid memang tak asing lagi. Pria ini pernah dianugerahi piagam penghargaan Gemilang Award, karena dinilai berhasil memelihara lingkungan hidup disekitar kampungnya. Lebih dari itu, penghargaan diberikan karena jumlah yang ditanamnya dianggap pantastis yakni tak kurang dari seribu pohon telah menancam ditanah dari tangannya.

Pohon itu ditanamnya sejak beberapa tahun lalu, di berbagai titik jalan di kota Tembilahan dan sekitarnya. Sebenarnya pekerjaan itu dilakukannya tak lebih sekadar karena dia perduli terhadap lingkungan. Sedikitpun dia tak berhadap pamrih dari pekerjaan sosialnya itu.

Meski niat Khalid tulus, namun tetap saja ada beberapa nada sumbang yang berusaha memojokannya. Mulai dari cibiran karena dia ingin diperhatikan, hingga dikabarkan dia memang dapat proyek penanaman dari instansi terkait. Tak banyak orang tahu, bila menanam pohon memang sudah sejak kecil dilakoninya.

“Saya hanya ingin lingkungan hijau dan asri. Walaupun ada juga yang mengatakan saya dapat proyek, tapi ini semua atas inisiatif dan dari usaha saya sendiri,” ujarnya.

Juga tak banyak yang mengetahui, bila bibit justru dihasilkan dengan melakukan persemayan sendiri. Dia memang merangkap sebagai penjual bibit pohon jenis itu, tapi pohon ditanamnya sendiri dimedia jalan setempat.

Tahun 2011 ini, Khalid menargetkan akan menanam sebanyak lima ribu bibit pohon dimedian jalan setempat. Untuk mendukung niatnya itu, sudah sekitar tiga ribu bibit pohon di Trembesi ditempat persemaian dilahan miliknya.

Langkah Khalid ini tentunya bersinergi dengan upaya pengurangan emisi pemanasan global. “Hari ini kita menanam, untuk bisa diwariskan kepada anak cucu kita kelak. Kasihan generasi kita berikutnya bila menghirup udara dari lingkungan yang kotor dan rusak," tegasnya.

Dia mengaku tak perlu dihargai oleh masyarakat. Namun hanya berpesan, agar ribuan bibit pohon yang telah ditanamnya disepanjang median jalan setempat turut dipelihara masyarakat. Jangan justru dicabuti atau dirusakai, pintanya.

Muhammad Khalid, Pejuang Lingkungan Tembilahan

  • Telah Menanam Ribuan Pohon di Tembilahan
Muhammad Khalid  (Poto:RiauTerkini)

Tembilahan (Suarapublic.Com) - Jarang ada orang yang rela berkorban untuk kemaslahatan orang banyak dimasa sekarang ini. Tapi bagi Muhammad Khalid (52), memberikan manfaat bagi orang sekeliling adalah sudah jalan hidupnya.

warga Jalan Lingkar Tembilahan itu rela wajah tuanya tersengat terik matahari hanya untuk menanam lebih banyak pohon dilingkungannya tempat tinggalnya. Bahkan tak terhitung sudah jumlah pohon telah ditanamnya sejak dirinya fokus mengambdikan diri bagi kelsetarian lingkungan.

"Rasanya ribuah pohon," katanya singkat, saat berbincang dengan beberapa wartawan setempat, disela melakukan gerakan menanam kembali pohon penghihajau di daerahnya Minggu (15/1/11).

Penanaman pohon untuk penghijauan dilakukan Khalid sejak pagi. Hingga pukul 10.00 WIB, Minggu (15/1/11), ratusan pohon berhasil ditanamnya. Jenis pohon macam-macam, namun kali ini dia menanam bibit pohon Angsana di pinggiran dan median Jalan Veteran yang baru selesai dibangun.

Hanya bermodal sebuah linggis, puluhan bibit pohon Angsana disampingnya berdiri tegak dipinggiran jalan itu. “Kali ini saya pilih bibit pohon Angsana karena memiliki daun rimbun. Bila sudah besar nanti, daunya bisa buat orang atau pengguna jalan kaki berteduh,” katanya.

Dikalangan pencinta lingkungan didaerahnya, Khalid memang tak asing lagi. Pria ini pernah dianugerahi piagam penghargaan Gemilang Award, karena dinilai berhasil memelihara lingkungan hidup disekitar kampungnya. Lebih dari itu, penghargaan diberikan karena jumlah yang ditanamnya dianggap pantastis yakni tak kurang dari seribu pohon telah menancam ditanah dari tangannya.

Pohon itu ditanamnya sejak beberapa tahun lalu, di berbagai titik jalan di kota Tembilahan dan sekitarnya. Sebenarnya pekerjaan itu dilakukannya tak lebih sekadar karena dia perduli terhadap lingkungan. Sedikitpun dia tak berhadap pamrih dari pekerjaan sosialnya itu.

Meski niat Khalid tulus, namun tetap saja ada beberapa nada sumbang yang berusaha memojokannya. Mulai dari cibiran karena dia ingin diperhatikan, hingga dikabarkan dia memang dapat proyek penanaman dari instansi terkait. Tak banyak orang tahu, bila menanam pohon memang sudah sejak kecil dilakoninya.

“Saya hanya ingin lingkungan hijau dan asri. Walaupun ada juga yang mengatakan saya dapat proyek, tapi ini semua atas inisiatif dan dari usaha saya sendiri,” ujarnya.

Juga tak banyak yang mengetahui, bila bibit justru dihasilkan dengan melakukan persemayan sendiri. Dia memang merangkap sebagai penjual bibit pohon jenis itu, tapi pohon ditanamnya sendiri dimedia jalan setempat.

Tahun 2011 ini, Khalid menargetkan akan menanam sebanyak lima ribu bibit pohon dimedian jalan setempat. Untuk mendukung niatnya itu, sudah sekitar tiga ribu bibit pohon di Trembesi ditempat persemaian dilahan miliknya.

Langkah Khalid ini tentunya bersinergi dengan upaya pengurangan emisi pemanasan global. “Hari ini kita menanam, untuk bisa diwariskan kepada anak cucu kita kelak. Kasihan generasi kita berikutnya bila menghirup udara dari lingkungan yang kotor dan rusak," tegasnya.

Dia mengaku tak perlu dihargai oleh masyarakat. Namun hanya berpesan, agar ribuan bibit pohon yang telah ditanamnya disepanjang median jalan setempat turut dipelihara masyarakat. Jangan justru dicabuti atau dirusakai, pintanya.

Kerusakan Lingkungan Balikpapan Naik 20 persen

Semburan minyak dilepas pantai Balikpapan
BALIKPAPAN - Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus digrogoti para perusak lingkungan. Badan Lingkungan Hidup setempat mencatat, kasus kerusakan lingkungan terjadi didaerah itu selama 2010 naik sekitar 20 persen dibanding 2009 lalu.

Kepala Bidang Pengawas dan Pengendali (Wasdal) Badan Lingkungan Hidup kota Balikpapan, Ahmad Yani, mengatakan, peningkatan kasus kerusakan lingkungan daerah setempat terjadi disebabkan kurangnya personil yang mengakibatkan lemahnya pengawasan.

"Jumlahnya ada 13 kasus, kalau dibandingkan dengan 2009, terjadi peningkatan, mungkin sekitar 20 persen peningkatannya," kata Ahmad Yani, Jumat (14/1).

Beberapa kasus besar yang menyebabkan kerusakan lingkungan justru dilakukan perusahaan besar yang berinvestasi di Balikpapan seperti PT Ciputra Bangun Mitra dan Balikpapan Damai Sentosa (BDS) II.

"Keduanya melanggar izin, yakni membangun tanpa memerhatikan kelestarian lingkungan," ungkapnya.

Selain itu, untuk kasus kerusakan lingkungan yang dampak negatifnya langsung menimpa masyarakat sekitar, adalah kasus pengupasan lahan yang dilakukan oleh Jamalludin yang berdampak melubernya lumpur ke kompleks perumahan BDS I.

"Jamalludin lebih parah lagi, karena betul-betul tidak memiliki izin," timpalnya.

Menurutnya, ke depan pihaknya akan menambah personel pengawas dan melakukan koordinasi dengan Polwabangling untuk melakukan pengawasan lingkungan lebih ketat lagi.

"Terus terang personel kami hanya 5 orang, jadi sangat tidak ideal untuk mengawasi seluruh Balikpapan," sebutnya.

Untuk itu, imbuhnya, selain meminta penambahan personel, pihaknya juga akan meningkatkan koordinasi dengan Polwasbangling, untuk melakukan pengawasan lingkungan di Balikpapan.

Kerusakan Lingkungan Balikpapan Naik 20 persen

Semburan minyak dilepas pantai Balikpapan
BALIKPAPAN - Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus digrogoti para perusak lingkungan. Badan Lingkungan Hidup setempat mencatat, kasus kerusakan lingkungan terjadi didaerah itu selama 2010 naik sekitar 20 persen dibanding 2009 lalu.

Kepala Bidang Pengawas dan Pengendali (Wasdal) Badan Lingkungan Hidup kota Balikpapan, Ahmad Yani, mengatakan, peningkatan kasus kerusakan lingkungan daerah setempat terjadi disebabkan kurangnya personil yang mengakibatkan lemahnya pengawasan.

"Jumlahnya ada 13 kasus, kalau dibandingkan dengan 2009, terjadi peningkatan, mungkin sekitar 20 persen peningkatannya," kata Ahmad Yani, Jumat (14/1).

Beberapa kasus besar yang menyebabkan kerusakan lingkungan justru dilakukan perusahaan besar yang berinvestasi di Balikpapan seperti PT Ciputra Bangun Mitra dan Balikpapan Damai Sentosa (BDS) II.

"Keduanya melanggar izin, yakni membangun tanpa memerhatikan kelestarian lingkungan," ungkapnya.

Selain itu, untuk kasus kerusakan lingkungan yang dampak negatifnya langsung menimpa masyarakat sekitar, adalah kasus pengupasan lahan yang dilakukan oleh Jamalludin yang berdampak melubernya lumpur ke kompleks perumahan BDS I.

"Jamalludin lebih parah lagi, karena betul-betul tidak memiliki izin," timpalnya.

Menurutnya, ke depan pihaknya akan menambah personel pengawas dan melakukan koordinasi dengan Polwabangling untuk melakukan pengawasan lingkungan lebih ketat lagi.

"Terus terang personel kami hanya 5 orang, jadi sangat tidak ideal untuk mengawasi seluruh Balikpapan," sebutnya.

Untuk itu, imbuhnya, selain meminta penambahan personel, pihaknya juga akan meningkatkan koordinasi dengan Polwasbangling, untuk melakukan pengawasan lingkungan di Balikpapan.

MNC Komitmen Dukung Kampanye Lingkungan Hidup

Jakarta - Rata-rata perusahaan media atau pers mencintai pelestarian lingkungan hidup, salah satunya Media Nusantara Citra (MNC). Melalui jaringan media cetak, online dan elektroni yang berada dibawah bendera MNC Group, perusahaan pers terkenal itu menyatakan kometmenya untuk mendukung kampanye lingkungan hidup.

Seperti dilaporkan seputar-indonesia.com, Director Corporate Secretary PT Global Mediacom Budi Rustanto mengatakan, MNC membuka pintu selebar-lebarnya untuk kampanye lingkungan hidup.

“Mudah-mudahan berbagai pihak seperti Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dapat menggunakan jaringan kami untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik,” kata Budi disela menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta beserta jajarannya, di Gedung MNC, Jakarta, kemarin.

Menurut Budi, kampanye pelestarian lingkungan hidup perlu ditingkatkan mengingat perubahan iklim ataupun krisis energi serta pencemaran limbah saat ini sudah dalam taraf mengkhawatirkan.

Dengan jaringan yang dimiliki MNC seperti media televisi yang mencakup RCTI, Global TV, MNC TV, dan Sun TV, Budi berharap mampu menyosialisasikan gerakan peduli lingkungan hidup secara luas. Budi juga menyampaikan, MNC dapat menerbitkan berbagai artikel dan menyiarkan berita terkait gerakan peduli lingkungan ini di harian Seputar Indonesia (SINDO), portal Okezone, dan radio seperti Trijaya FM,Female Radio,dan radio Global ARH.

Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta sangat bangga dengan apresiasi dukungan MNC tersebut. Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan hidup selama ini masih kurang. Karena itu, pihaknya sangat butuh bantuan media agar semua masyarakat paham akan perubahan iklim yang makin kritis ini.

“Ada dua tahap yang dilaksanakan dalam pelestarian lingkungan saat ini yakni dengan cara mitigasi dan adaptasi. Saat ini masyarakat masih fokus dengan mitigasi dan kami ingin mengubah hal itu,” jelas Gusti.

Bahkan tak sebatas mengenai perubahan iklim, tapi isu lingkungan hidup yang perlu masyarakat ketahui adalah mengenai keanekaragaman hayati Indonesia yang terancam punah. Dijelaskanya, kekayaan alam Indonesia merupakan terbesar kedua setelah Brasil. Karenanya, manfaatnya harus dirasakan sebesar-besarnya oleh seluruh penduduk Indonesia, baik sebagai bahan sandang, pangan, maupun obat-obatan.

Ditegaskan Gusti, kampanye gerakan lingkungan hidup perlu digalakkan dari sekarang karena tingkat emisi pada 2020 ditaksir mencapai 1,6 gigaton. Terkait hal itu, diakui Gusti, bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini sedang menggalakkan penggunaan energi yang ramah lingkungan dengan menelan anggaran hingga Rp1 triliun.

"Indonesia sendiri menargetkan dapat menurunkan emisi hingga 26%. Kementerian Lingkungan Hidup, juga bertekad untuk menekan titik-titik panas (hotspot) hingga 20%. Titik-titik panas ini sangat mengganggu rute penerbangan dan juga menyebabkan infeksi saluran pernafasan," timpal Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan itu.

Untuk menyelamatkan hutan, kata Gusti, kementerian lingkungan hidup akan menanam hingga 1 juta pohon. "Ini harus membudaya ditengah masyarakat, terutama penduduk dipedalaman yang selama ini turut melestarikan hutan dengan tetap menjaga lingkungan ekosistem diwilayahnya tetap seperti aslinya.

Dalam kesempatan berkunjung ke kantor MNC, selain hadir beberapa pejabat eselon 1 KLH, turut hadir Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian SINDO, Pemred Majalah Trust, Pemred MNC TV, Pemred Global TV, serta Pemred Okezone.

Mewakili MNC Group, Pemred Harian SINDO, Sururi Al Faruq mengatakan, media yang dikelolanya tidak hanya terfokus pada berita politik semata, tapi juga menyampaikan info atau berita olahraga dan gaya hidup, termasuk memberikan porsi pemberitaan pada berita lingkungan hidup.

MNC Komitmen Dukung Kampanye Lingkungan Hidup

Jakarta - Rata-rata perusahaan media atau pers mencintai pelestarian lingkungan hidup, salah satunya Media Nusantara Citra (MNC). Melalui jaringan media cetak, online dan elektroni yang berada dibawah bendera MNC Group, perusahaan pers terkenal itu menyatakan kometmenya untuk mendukung kampanye lingkungan hidup.

Seperti dilaporkan seputar-indonesia.com, Director Corporate Secretary PT Global Mediacom Budi Rustanto mengatakan, MNC membuka pintu selebar-lebarnya untuk kampanye lingkungan hidup.

“Mudah-mudahan berbagai pihak seperti Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dapat menggunakan jaringan kami untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik,” kata Budi disela menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta beserta jajarannya, di Gedung MNC, Jakarta, kemarin.

Menurut Budi, kampanye pelestarian lingkungan hidup perlu ditingkatkan mengingat perubahan iklim ataupun krisis energi serta pencemaran limbah saat ini sudah dalam taraf mengkhawatirkan.

Dengan jaringan yang dimiliki MNC seperti media televisi yang mencakup RCTI, Global TV, MNC TV, dan Sun TV, Budi berharap mampu menyosialisasikan gerakan peduli lingkungan hidup secara luas. Budi juga menyampaikan, MNC dapat menerbitkan berbagai artikel dan menyiarkan berita terkait gerakan peduli lingkungan ini di harian Seputar Indonesia (SINDO), portal Okezone, dan radio seperti Trijaya FM,Female Radio,dan radio Global ARH.

Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta sangat bangga dengan apresiasi dukungan MNC tersebut. Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan hidup selama ini masih kurang. Karena itu, pihaknya sangat butuh bantuan media agar semua masyarakat paham akan perubahan iklim yang makin kritis ini.

“Ada dua tahap yang dilaksanakan dalam pelestarian lingkungan saat ini yakni dengan cara mitigasi dan adaptasi. Saat ini masyarakat masih fokus dengan mitigasi dan kami ingin mengubah hal itu,” jelas Gusti.

Bahkan tak sebatas mengenai perubahan iklim, tapi isu lingkungan hidup yang perlu masyarakat ketahui adalah mengenai keanekaragaman hayati Indonesia yang terancam punah. Dijelaskanya, kekayaan alam Indonesia merupakan terbesar kedua setelah Brasil. Karenanya, manfaatnya harus dirasakan sebesar-besarnya oleh seluruh penduduk Indonesia, baik sebagai bahan sandang, pangan, maupun obat-obatan.

Ditegaskan Gusti, kampanye gerakan lingkungan hidup perlu digalakkan dari sekarang karena tingkat emisi pada 2020 ditaksir mencapai 1,6 gigaton. Terkait hal itu, diakui Gusti, bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini sedang menggalakkan penggunaan energi yang ramah lingkungan dengan menelan anggaran hingga Rp1 triliun.

"Indonesia sendiri menargetkan dapat menurunkan emisi hingga 26%. Kementerian Lingkungan Hidup, juga bertekad untuk menekan titik-titik panas (hotspot) hingga 20%. Titik-titik panas ini sangat mengganggu rute penerbangan dan juga menyebabkan infeksi saluran pernafasan," timpal Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan itu.

Untuk menyelamatkan hutan, kata Gusti, kementerian lingkungan hidup akan menanam hingga 1 juta pohon. "Ini harus membudaya ditengah masyarakat, terutama penduduk dipedalaman yang selama ini turut melestarikan hutan dengan tetap menjaga lingkungan ekosistem diwilayahnya tetap seperti aslinya.

Dalam kesempatan berkunjung ke kantor MNC, selain hadir beberapa pejabat eselon 1 KLH, turut hadir Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian SINDO, Pemred Majalah Trust, Pemred MNC TV, Pemred Global TV, serta Pemred Okezone.

Mewakili MNC Group, Pemred Harian SINDO, Sururi Al Faruq mengatakan, media yang dikelolanya tidak hanya terfokus pada berita politik semata, tapi juga menyampaikan info atau berita olahraga dan gaya hidup, termasuk memberikan porsi pemberitaan pada berita lingkungan hidup.

Titi Dj Konser Bawa Misi Lingkungan Hidup

JAKARTA - Tak banyak artis seperti Titi Dj. Kecintaannya terhadap lingkungan dia buktikan dengan menggelar pertunjukan musikal tunggal. Pertunjukan bertajuk konser Swara Sang Dewi rencananya digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Menurut Titi, persiapan konser yang akan dilangsungkan selama empat hari mulai 20 Januari 2011 itu sudah rampung sekitar 80 persen mulai dari tatanan panggung hingga kostum.

"Di konser ini saya punya misi yang mudah-mudahan bisa didengar sama semua orang. Simple aja kok, saya mau agar semuanya peduli dan sadar dengan keberadaan lingkungan di sekitar kita," kata Titi di Jakarta, seperti dilaporkan liputan6.com, Minggu (9/1/2011).

Nantinya, Swara Sang Dewi bakal dimeriahkan oleh sejumlah grup musik pendukung. Mereka di antaranya The Dance Company, Geisha, dan Ungu. Ketika ditanya soal grup vokal yang terdiri dari sahabat-sahabatnya -- DI3VA -- Titi tak mengeluarkan banyak kalimat.

"Sahabat engga usah ikutanlah. Mereka nonton aja," ujarnya.

Demi mendukung konsep peduli lingkungan pada Swara Sang Dewi, Titi akan bermain dengan unsur-unsur udara, air, api, dan Bumi dalam setiap pertunjukannya. Konser Swara Sang Dewi akan dibagi menjadi beberapa segmen pertunjukan. Dan komposer ternama, Andi Rianto, bersama Magenta Orchestranya didaulat sebagai pengawal konser tersebut.

Titi optimistis konsernya begitu dinantikan oleh para penggemarnya di seluruh Tanah Air. Maka dari itu, ia membuatnya berbeda dari sebelumnya dan digelar selama empat hari.

Titi Dj Konser Bawa Misi Lingkungan Hidup

JAKARTA - Tak banyak artis seperti Titi Dj. Kecintaannya terhadap lingkungan dia buktikan dengan menggelar pertunjukan musikal tunggal. Pertunjukan bertajuk konser Swara Sang Dewi rencananya digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Menurut Titi, persiapan konser yang akan dilangsungkan selama empat hari mulai 20 Januari 2011 itu sudah rampung sekitar 80 persen mulai dari tatanan panggung hingga kostum.

"Di konser ini saya punya misi yang mudah-mudahan bisa didengar sama semua orang. Simple aja kok, saya mau agar semuanya peduli dan sadar dengan keberadaan lingkungan di sekitar kita," kata Titi di Jakarta, seperti dilaporkan liputan6.com, Minggu (9/1/2011).

Nantinya, Swara Sang Dewi bakal dimeriahkan oleh sejumlah grup musik pendukung. Mereka di antaranya The Dance Company, Geisha, dan Ungu. Ketika ditanya soal grup vokal yang terdiri dari sahabat-sahabatnya -- DI3VA -- Titi tak mengeluarkan banyak kalimat.

"Sahabat engga usah ikutanlah. Mereka nonton aja," ujarnya.

Demi mendukung konsep peduli lingkungan pada Swara Sang Dewi, Titi akan bermain dengan unsur-unsur udara, air, api, dan Bumi dalam setiap pertunjukannya. Konser Swara Sang Dewi akan dibagi menjadi beberapa segmen pertunjukan. Dan komposer ternama, Andi Rianto, bersama Magenta Orchestranya didaulat sebagai pengawal konser tersebut.

Titi optimistis konsernya begitu dinantikan oleh para penggemarnya di seluruh Tanah Air. Maka dari itu, ia membuatnya berbeda dari sebelumnya dan digelar selama empat hari.

Pengawasan Hukum Program 2011 Kemen LH

JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dalam program 2011 akan memprioritaskan kegiatan pengawasan secara hukum terhadap kerusakan lingkungan. Upaya itu agar pencemaran lingkungan dapat ditekan dengan pengendalian maksimal melalui pengawasan hukum.

"Salah satu cara melakukan penurunan pencemaran 750 perusahaan melalui peningkatan pengawasan hukum lingkungan," kata Menteri lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta dalam paparannya mengenai program kerja pihaknya di Gedung Kementerian Koordinator kesejahteran Rakyat (Kemenkokesra) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Selain akan mengendalikan beban pencemaran lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, menurut Hatta, juga akan mendorong upaya penurunan gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan pangan sepanjang 2011.

Program prioritas lain, menurutnya, salah satunya penurunan jumlah titik api di delapan provinsi. Caranya dengan tentu dengan upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dengan pengawasan ketat petugas lapangan.

Pengawasan Hukum Program 2011 Kemen LH

JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dalam program 2011 akan memprioritaskan kegiatan pengawasan secara hukum terhadap kerusakan lingkungan. Upaya itu agar pencemaran lingkungan dapat ditekan dengan pengendalian maksimal melalui pengawasan hukum.

"Salah satu cara melakukan penurunan pencemaran 750 perusahaan melalui peningkatan pengawasan hukum lingkungan," kata Menteri lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta dalam paparannya mengenai program kerja pihaknya di Gedung Kementerian Koordinator kesejahteran Rakyat (Kemenkokesra) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Selain akan mengendalikan beban pencemaran lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, menurut Hatta, juga akan mendorong upaya penurunan gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan pangan sepanjang 2011.

Program prioritas lain, menurutnya, salah satunya penurunan jumlah titik api di delapan provinsi. Caranya dengan tentu dengan upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dengan pengawasan ketat petugas lapangan.

Gawat, Lima Danau Tercemar Limbah

Danau Sembuluh Terbesar Di Kalimantan Tengah
JAKARTA - Wah gawat. Aktivitas perusahaan perkebunan kepala sawit ternyata tak hanya mencemari sungai-sungai tapi juga turut mencemari lima danau besar di Indonesia. Satu di antaranya adalah Danau Sembuluh di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), tepatnya di Kabupaten Seruyan.

"Selain sungai, terdapat lima danau yang juga tercemar limbah," kata Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Mukri Friatna di Jakarta, Senin.

Danau tercemar tersebut yakni Danau Sentani di Jayapura, Provinsi Papua, tercemar limbah domestik, Danau Unhas di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, yang tercemar limbah logam berat, Situ Rawabadung di Jakarta Timur tercemar merkuri.

Selain itu, juga Danau Sembuluh di Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah, yang tercemar limbah CPO dan Danau Penantian di Muaraenim Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, yang tercemar limbah PLTU.

Pencemaran air di danau tersebut, menyebabkan masyarakat setempat tidak bisa lagi memanfaatkan air danau untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk konsumsi maupun membudidayakan ikan.

Pencemaran air dilihat dari tingginya tingkat BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand) dan Ph yang melampaui baku mutu yang ditetapkan.

Bila mengacu kepada Keputusan Menteri Kesehatan No.907/Menkes/ SK/VII/2002 menyebutkan, tingkat keasaman air (Ph) harus antara 6,5 hingga 8,5. Nilai ini sama dengan yang telah ditetapkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) yaitu air bisa diminum jika Ph 6,5 hingga 8,5.

Walhi mendata selama 2010 telah terjadi 75 kali pencemaran yang mengakibatkan 65 sungai dan lima lokasi perairan laut tercemar.

Selain lima danau tersebut, sejumlah sungai juga turut tercemar selama 2010 seperti sungai Batota di Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur dan 18 sungai lainnya di sejumlah daerah yang tercemar limbah tambang batubara.

Di samping itu, lima sungai tercemar tambang emas, sungai Rembang dan Indralaya di Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, yang tercemar minyak, sungai Nuangan di Manado tercemar limbah B3 dan sungai Bali di Kotabaru, Kalsel, tercemar bijih besi serta sungai Ulu Muntok di Bangka yang tercemar timah.

Sementara itu, 21 sungai dimana 18 di antaranya di wilayah Sumatera dan lainnya di Provinsi Kalimantan Barat, tercemar limbah sawit serta 22 sungai juga tercemar limbah industri dan campuran.

Gawat, Lima Danau Tercemar Limbah

Danau Sembuluh Terbesar Di Kalimantan Tengah
JAKARTA - Wah gawat. Aktivitas perusahaan perkebunan kepala sawit ternyata tak hanya mencemari sungai-sungai tapi juga turut mencemari lima danau besar di Indonesia. Satu di antaranya adalah Danau Sembuluh di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), tepatnya di Kabupaten Seruyan.

"Selain sungai, terdapat lima danau yang juga tercemar limbah," kata Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Mukri Friatna di Jakarta, Senin.

Danau tercemar tersebut yakni Danau Sentani di Jayapura, Provinsi Papua, tercemar limbah domestik, Danau Unhas di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, yang tercemar limbah logam berat, Situ Rawabadung di Jakarta Timur tercemar merkuri.

Selain itu, juga Danau Sembuluh di Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah, yang tercemar limbah CPO dan Danau Penantian di Muaraenim Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, yang tercemar limbah PLTU.

Pencemaran air di danau tersebut, menyebabkan masyarakat setempat tidak bisa lagi memanfaatkan air danau untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk konsumsi maupun membudidayakan ikan.

Pencemaran air dilihat dari tingginya tingkat BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand) dan Ph yang melampaui baku mutu yang ditetapkan.

Bila mengacu kepada Keputusan Menteri Kesehatan No.907/Menkes/ SK/VII/2002 menyebutkan, tingkat keasaman air (Ph) harus antara 6,5 hingga 8,5. Nilai ini sama dengan yang telah ditetapkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) yaitu air bisa diminum jika Ph 6,5 hingga 8,5.

Walhi mendata selama 2010 telah terjadi 75 kali pencemaran yang mengakibatkan 65 sungai dan lima lokasi perairan laut tercemar.

Selain lima danau tersebut, sejumlah sungai juga turut tercemar selama 2010 seperti sungai Batota di Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur dan 18 sungai lainnya di sejumlah daerah yang tercemar limbah tambang batubara.

Di samping itu, lima sungai tercemar tambang emas, sungai Rembang dan Indralaya di Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, yang tercemar minyak, sungai Nuangan di Manado tercemar limbah B3 dan sungai Bali di Kotabaru, Kalsel, tercemar bijih besi serta sungai Ulu Muntok di Bangka yang tercemar timah.

Sementara itu, 21 sungai dimana 18 di antaranya di wilayah Sumatera dan lainnya di Provinsi Kalimantan Barat, tercemar limbah sawit serta 22 sungai juga tercemar limbah industri dan campuran.

Dinilai Belum Serius Lestarikan Lingkungan

SEMARANG - Upaya pemerintah mengatasi persoalan lingkungan dinilai belum serius. Menurut pakar lingkungan juga Rektor Universitas Diponegoro Semarang Sudharto P. Hadi, salah satunya terkait pembentukan Undang-Undang Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

"UU itu respons atas persoalan-persoalan lingkungan yang dirasa makin memprihatinkan. Secara umum muatan UU ini memang sangat prolingkungan. Soalnya UU tersebut memuat sejumlah ketentuan, seperti kajian lingkungan hidup strategis, rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan Hidup, daya dukung dan tampung lingkungan yang sangat positif," sebut Sudharto.

Tapi hingga saat ini belum ada satu pun Peraturan Pemerintah (PP) yang terbit untuk menindaklanjuti UU PPLH. Padahal UU harus segera ditindaklanjuti PP untuk bisa diimplementasi. "Kalau tidak segera ditindaklanjuti dengan PP, maka UU PPLH hanya akan indah dan terkesan galak dalam rumusannya. Namun sulit untuk melakukan implementasi amanat UU tersebut," timpalnya.

Persoalan lingkungan menimbulkan dampak merugikan jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu yang paling riskan adalah munculnya bencana banjir yang tak lazim (diluar kebiasaan musim). Selanjutnya juga berdampak pada pencemaran udara, kelangkaan air bersih, sanitasi buruk, dan kemacetan.

Karena masalah itu, Jakarta menjadi sorotan. Bahkan akhirnya muncul wacana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke kota lain. Wacana itu menurut Sudharto merupakan ekspresi kegundahan pemerintah terkait kondisi lingkungan Jakarta saat ini.

Dinilai Belum Serius Lestarikan Lingkungan

SEMARANG - Upaya pemerintah mengatasi persoalan lingkungan dinilai belum serius. Menurut pakar lingkungan juga Rektor Universitas Diponegoro Semarang Sudharto P. Hadi, salah satunya terkait pembentukan Undang-Undang Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

"UU itu respons atas persoalan-persoalan lingkungan yang dirasa makin memprihatinkan. Secara umum muatan UU ini memang sangat prolingkungan. Soalnya UU tersebut memuat sejumlah ketentuan, seperti kajian lingkungan hidup strategis, rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan Hidup, daya dukung dan tampung lingkungan yang sangat positif," sebut Sudharto.

Tapi hingga saat ini belum ada satu pun Peraturan Pemerintah (PP) yang terbit untuk menindaklanjuti UU PPLH. Padahal UU harus segera ditindaklanjuti PP untuk bisa diimplementasi. "Kalau tidak segera ditindaklanjuti dengan PP, maka UU PPLH hanya akan indah dan terkesan galak dalam rumusannya. Namun sulit untuk melakukan implementasi amanat UU tersebut," timpalnya.

Persoalan lingkungan menimbulkan dampak merugikan jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu yang paling riskan adalah munculnya bencana banjir yang tak lazim (diluar kebiasaan musim). Selanjutnya juga berdampak pada pencemaran udara, kelangkaan air bersih, sanitasi buruk, dan kemacetan.

Karena masalah itu, Jakarta menjadi sorotan. Bahkan akhirnya muncul wacana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke kota lain. Wacana itu menurut Sudharto merupakan ekspresi kegundahan pemerintah terkait kondisi lingkungan Jakarta saat ini.