Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

POLITIKAL NEWS

Poros Barito

Technology

KRIMINALITAS

ANTI KORUPTOR

Sports

POROS KALTENG

BI diharapkan konsisten jalankan kebijakan moneter

SUARAPUBLIC.com - Bank Indonesia (BI), diharapkan konsisten dalam menjalankan kebijakan moneter. Permitnaan itu sejalan dengan rencana menaikkan BI Rate di tengah tekanan para pemodal asing untuk mengerek suku bunga acuan.

Menurut Ekonom Senior Mirza Adityaswara, investor asing belum terbiasa melihat indonesia memiliki rasio suku bunga di bawah angka inflasi (negative real interest rate). BI rate 6,5% saat ini di bawah inflasi 6,96%.

“Beberapa negara seperti China, Thailand bisa memiliki negative real interest rate. Asalkan BI konsisten menunjukkan bahwa BI concern terhadap inflasi, maka pasar akan tenang,” ujarnya, dikutif dari situs bisnis.com, hari ini.

Lebih jauh dijelaskannya, cara menunjukkan kepada pasar bahwa bank sentral concern terhadap inflasi dengan menaikkan GWM atau membiarkan kurs rupiah menguat. Rencana menaikkan BI rate, juga bisa dijadikan opsi jika sudah mendesak.

Dia menyarankan agar BI tidak mencampur kebijakan pengendalian inflasi dengan peningkatan pertumbuhan kredit. Pasalnya jika dua hal tersebut dicampur pasar akan bingung dalam merespon.

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan akan menaikkan BI Rate untuk meredam laju inflasi. Namun, otoritas moneter mengaku masih mencari momentum yang tepat untuk mengerek suku bunga acuan.

Diawal tahun tadi, Darmin juga sempat menyampaikan bahwa belum akan menaikkan BI Rate karena faktor pendorong inflasi bukan sisi moneter, melainkan fiskal. Meskipun, kenaikan core inflasi bisa dijadikan opsi kenaikan BI rate.

Darmin menolak jika kemudian ada dorongan analis asing agar bank sentral menaikkan suku bunga. “Pihak ssing mengatakan BI behind the curve, itu memang persepsi mereka," sebutnya.

IMF pun sebenarnya masih in-line. Bahwa kemudian itu dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menekan BI supaya now [menaikkan BI Rate], nanti dulu, sebutnya. Pihaknya juga punya analisis mengenai hal itu.

BI diharapkan konsisten jalankan kebijakan moneter

SUARAPUBLIC.com - Bank Indonesia (BI), diharapkan konsisten dalam menjalankan kebijakan moneter. Permitnaan itu sejalan dengan rencana menaikkan BI Rate di tengah tekanan para pemodal asing untuk mengerek suku bunga acuan.

Menurut Ekonom Senior Mirza Adityaswara, investor asing belum terbiasa melihat indonesia memiliki rasio suku bunga di bawah angka inflasi (negative real interest rate). BI rate 6,5% saat ini di bawah inflasi 6,96%.

“Beberapa negara seperti China, Thailand bisa memiliki negative real interest rate. Asalkan BI konsisten menunjukkan bahwa BI concern terhadap inflasi, maka pasar akan tenang,” ujarnya, dikutif dari situs bisnis.com, hari ini.

Lebih jauh dijelaskannya, cara menunjukkan kepada pasar bahwa bank sentral concern terhadap inflasi dengan menaikkan GWM atau membiarkan kurs rupiah menguat. Rencana menaikkan BI rate, juga bisa dijadikan opsi jika sudah mendesak.

Dia menyarankan agar BI tidak mencampur kebijakan pengendalian inflasi dengan peningkatan pertumbuhan kredit. Pasalnya jika dua hal tersebut dicampur pasar akan bingung dalam merespon.

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan akan menaikkan BI Rate untuk meredam laju inflasi. Namun, otoritas moneter mengaku masih mencari momentum yang tepat untuk mengerek suku bunga acuan.

Diawal tahun tadi, Darmin juga sempat menyampaikan bahwa belum akan menaikkan BI Rate karena faktor pendorong inflasi bukan sisi moneter, melainkan fiskal. Meskipun, kenaikan core inflasi bisa dijadikan opsi kenaikan BI rate.

Darmin menolak jika kemudian ada dorongan analis asing agar bank sentral menaikkan suku bunga. “Pihak ssing mengatakan BI behind the curve, itu memang persepsi mereka," sebutnya.

IMF pun sebenarnya masih in-line. Bahwa kemudian itu dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menekan BI supaya now [menaikkan BI Rate], nanti dulu, sebutnya. Pihaknya juga punya analisis mengenai hal itu.

Ini dia Bisnis yang Membuat Orang Kaya Baru di RI

JAKARTA - Kelas menengah Indonesia tumbuh sangat pesat dalam satu dekade ini. Dari 1999 hingga 2009, kelompok menengah ini telah melonjak dua kali lipat dari 45 juta jiwa menjadi 93 juta jiwa.

Ekonom Dradjad Wibowo menyebutkan pertumbuhan kelompok menengah tersebut lebih didorong oleh perkembangan pesat sejumlah sektor bisnis, reformasi kebijakan ekonomi dan politik, serta otonomi daerah.

Dalam beberapa tahun ini, pertumbuhan kelas menengah bahkan meningkat cukup pesat di daerah, khususnya di Sumatra dan Kalimantan. "Banyak politisi, pimpinan ormas dan pebisnis daerah yang beruntung dengan otonomi daerah serta kenaikan harga komoditas dunia."

Sedangkan, di kota-kota besar, menurut Dradjad, pertumbuhan kelas menengah muncul dari booming di sektor keuangan, teknologi informasi dan industri kreatif. Mereka yang beruntung adalah para pekerja dan eksekutif kantoran, wirausahawan baru, para profesional serta anak-anak muda yang terjun di industri kreatif. Mereka umumnya adalah kelompok yang menempuh pendidikan tinggi dan terbiasa dengan Internet.

"Mereka ini masuk kategori kelompok orang mapan atau kaya baru. Pertumbuhan kelompok ini sangat pesat," kata Dradjad di Jakarta, seperti dilaporkan VIVAnews.com .

Jika mengacu data Badan Pusat Statistik berdasarkan jumlah pengeluaran, mereka masuk kelompok menengah-tengah jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat, dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa dalam satu dekade.

Kelompok menengah-atas bahkan naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.

Sementara, Data BPS 2010 menyebutkan dari 83,6 juta pekerja berpenghasilan tetap di Indonesia, sebanyak 30 persen atau 25,08 juta jiwa masuk kategori kelas menengah dengan pendapatan US$5.356 atau Rp48,25 juta per tahun.

Selanjutnya golongan atas berjumlah 10 persen atau 8,36 juta jiwa rata-rata penghasilannya US$14.198 atau Rp127,9 juta per tahun. Untuk lebih memperjelas bagaimana sektor-sektor bisnis tersebut menjadi sumber penghasilan orang-orang kaya baru, berikut ini penjelasannya:

Sektor keuangan
Sektor keuangan merupakan salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia. Khusus sektor perbankan telah mengalami pertumbuhan sangat signifikan dalam satu dekade. Pada tahun 2000, total aset perbankan sekitar Rp1000 triliun, namun pada akhir 2009 sudah melonjak tajam menjadi Rp2500 triliun. Itu belum termasuk industri asuransi, reksa dana dan pasar modal.

Sektor pertanian
Sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit yang berkembang pesat menjadi sumber pertumbuhan orang kaya Indonesia. Banyak petani-petani perkebunan kelapa sawit kini makin sejahtera. Bahkan, tak sedikit kalangan elit daerah, mulai dari politisi, ormas yang kini menjadi orang kaya baru.

"Mereka dulunya biasa-biasa saja, dengan adanya otonomi daerah, mereka kini umumnya punya kebun sawit minimal 100 hektare hingga ribuan hektare," ujar Dradjad yang gemar ke daerah sebagai Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Sejumlah miliarder Indonesia, menurut Forbes, juga merupakan orang kaya Indonesia yang mengandalkan bisnis dari perkebunan kelapa sawit.

Sektor pertambangan
Pertambangan, khususnya batu bara, menurut Dradjad Wibowo, merupakan sumber pertumbuhan orang kaya baru Indonesia. Seperti halnya perkebunan sawit, jika dulu sumber alam dikuasai oleh kelompok terbatas, sekarang penguasaan atas aset-aset sumber alam seperti batu bara lebih meluas ke elit-elit politik, pebisnis lokal dan ormas yang memiliki akses lebih mudah terhadap pimpinan di daerah. Beberapa miliarder baru Indonesia yang masuk majalah Forbes, juga orang-orang yang bergerak di tambang batu bara.

Teknologi informasi
Teknologi informasi merupakan salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia. Sektor telekomunikasi merupakan sektor yang tumbuh paling pesat. Indonesia merupakan pasar ponsel terbesar di Asia Tenggara. Internet juga tumbuh signifikan. Tak heran jika bermunculan pebisnis baru di sektor hilir seperti maraknya pedagang ponsel hingga bermunculannya perusahaan-perusahaan konten penunjang.

Industri kreatif
Industri Kreatif merupakan salah satu industri yang makin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Industri ini antara lain fashion, musik, film, budaya, teknologi, kuliner, batik dan kerajinan. Menurut Dradjad, tumbuhnya industri kreatif didorong oleh anak-anak muda Indonesia yang sekolah di luar negeri, juga yang sekolah di dalam negeri namun kreatif memanfaatkan keahlian mereka. Kebanyakan mereka juga memasarkan produk-produknya lewat Internet.

Ini dia Bisnis yang Membuat Orang Kaya Baru di RI

JAKARTA - Kelas menengah Indonesia tumbuh sangat pesat dalam satu dekade ini. Dari 1999 hingga 2009, kelompok menengah ini telah melonjak dua kali lipat dari 45 juta jiwa menjadi 93 juta jiwa.

Ekonom Dradjad Wibowo menyebutkan pertumbuhan kelompok menengah tersebut lebih didorong oleh perkembangan pesat sejumlah sektor bisnis, reformasi kebijakan ekonomi dan politik, serta otonomi daerah.

Dalam beberapa tahun ini, pertumbuhan kelas menengah bahkan meningkat cukup pesat di daerah, khususnya di Sumatra dan Kalimantan. "Banyak politisi, pimpinan ormas dan pebisnis daerah yang beruntung dengan otonomi daerah serta kenaikan harga komoditas dunia."

Sedangkan, di kota-kota besar, menurut Dradjad, pertumbuhan kelas menengah muncul dari booming di sektor keuangan, teknologi informasi dan industri kreatif. Mereka yang beruntung adalah para pekerja dan eksekutif kantoran, wirausahawan baru, para profesional serta anak-anak muda yang terjun di industri kreatif. Mereka umumnya adalah kelompok yang menempuh pendidikan tinggi dan terbiasa dengan Internet.

"Mereka ini masuk kategori kelompok orang mapan atau kaya baru. Pertumbuhan kelompok ini sangat pesat," kata Dradjad di Jakarta, seperti dilaporkan VIVAnews.com .

Jika mengacu data Badan Pusat Statistik berdasarkan jumlah pengeluaran, mereka masuk kelompok menengah-tengah jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat, dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa dalam satu dekade.

Kelompok menengah-atas bahkan naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.

Sementara, Data BPS 2010 menyebutkan dari 83,6 juta pekerja berpenghasilan tetap di Indonesia, sebanyak 30 persen atau 25,08 juta jiwa masuk kategori kelas menengah dengan pendapatan US$5.356 atau Rp48,25 juta per tahun.

Selanjutnya golongan atas berjumlah 10 persen atau 8,36 juta jiwa rata-rata penghasilannya US$14.198 atau Rp127,9 juta per tahun. Untuk lebih memperjelas bagaimana sektor-sektor bisnis tersebut menjadi sumber penghasilan orang-orang kaya baru, berikut ini penjelasannya:

Sektor keuangan
Sektor keuangan merupakan salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia. Khusus sektor perbankan telah mengalami pertumbuhan sangat signifikan dalam satu dekade. Pada tahun 2000, total aset perbankan sekitar Rp1000 triliun, namun pada akhir 2009 sudah melonjak tajam menjadi Rp2500 triliun. Itu belum termasuk industri asuransi, reksa dana dan pasar modal.

Sektor pertanian
Sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit yang berkembang pesat menjadi sumber pertumbuhan orang kaya Indonesia. Banyak petani-petani perkebunan kelapa sawit kini makin sejahtera. Bahkan, tak sedikit kalangan elit daerah, mulai dari politisi, ormas yang kini menjadi orang kaya baru.

"Mereka dulunya biasa-biasa saja, dengan adanya otonomi daerah, mereka kini umumnya punya kebun sawit minimal 100 hektare hingga ribuan hektare," ujar Dradjad yang gemar ke daerah sebagai Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Sejumlah miliarder Indonesia, menurut Forbes, juga merupakan orang kaya Indonesia yang mengandalkan bisnis dari perkebunan kelapa sawit.

Sektor pertambangan
Pertambangan, khususnya batu bara, menurut Dradjad Wibowo, merupakan sumber pertumbuhan orang kaya baru Indonesia. Seperti halnya perkebunan sawit, jika dulu sumber alam dikuasai oleh kelompok terbatas, sekarang penguasaan atas aset-aset sumber alam seperti batu bara lebih meluas ke elit-elit politik, pebisnis lokal dan ormas yang memiliki akses lebih mudah terhadap pimpinan di daerah. Beberapa miliarder baru Indonesia yang masuk majalah Forbes, juga orang-orang yang bergerak di tambang batu bara.

Teknologi informasi
Teknologi informasi merupakan salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia. Sektor telekomunikasi merupakan sektor yang tumbuh paling pesat. Indonesia merupakan pasar ponsel terbesar di Asia Tenggara. Internet juga tumbuh signifikan. Tak heran jika bermunculan pebisnis baru di sektor hilir seperti maraknya pedagang ponsel hingga bermunculannya perusahaan-perusahaan konten penunjang.

Industri kreatif
Industri Kreatif merupakan salah satu industri yang makin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Industri ini antara lain fashion, musik, film, budaya, teknologi, kuliner, batik dan kerajinan. Menurut Dradjad, tumbuhnya industri kreatif didorong oleh anak-anak muda Indonesia yang sekolah di luar negeri, juga yang sekolah di dalam negeri namun kreatif memanfaatkan keahlian mereka. Kebanyakan mereka juga memasarkan produk-produknya lewat Internet.

Australia Banjir, Harga Kapas Dunia Naik

Harga Kapas dunia mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan ini. Kembali naiknya harga komoditi ini dipicu kerusakan lahan perkebunan kapas akibat bencana banjir yang melanda Australia.

Laporan media setempat mencatat, harga kapas mencapai US$ 1,5225 yang merupakan harga tertinggi sejak 23 Desember. Padahal pengiriman Maret sudah naik 0,72 sen atau 0,5 % menjadi US$ 1,4797 per pon pada 14:36 waktu setempat di ICE Futures di New York.

Departemen Pertanian As, pasca meroketnya hara kemaren, terpaksa menurunkan estimasi produksi kapas global untuk tahun ini. Produksi hanya sekitar 115,46 juta bal, atau diturunkan 0,1% dari ekspektasi mereka bulan lalu.

Ini sangat tak sebading dengan kebutuhan. Merekapun menaikkan perkiraan konsumsi kapas 0,3% menjadi 116,58 juta bal. (1 bal = 218 kilogram ).

"Situasi keseluruhan komoditas memang seret, beberapa trader mengharapkan akan ada rekor harga tertinggi lagi," kata Jack Scoville Wakil Presiden Price Futures Group, Inc di Chicago, seperti dilaporkan kontan, hari ini.

Australia Banjir, Harga Kapas Dunia Naik

Harga Kapas dunia mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan ini. Kembali naiknya harga komoditi ini dipicu kerusakan lahan perkebunan kapas akibat bencana banjir yang melanda Australia.

Laporan media setempat mencatat, harga kapas mencapai US$ 1,5225 yang merupakan harga tertinggi sejak 23 Desember. Padahal pengiriman Maret sudah naik 0,72 sen atau 0,5 % menjadi US$ 1,4797 per pon pada 14:36 waktu setempat di ICE Futures di New York.

Departemen Pertanian As, pasca meroketnya hara kemaren, terpaksa menurunkan estimasi produksi kapas global untuk tahun ini. Produksi hanya sekitar 115,46 juta bal, atau diturunkan 0,1% dari ekspektasi mereka bulan lalu.

Ini sangat tak sebading dengan kebutuhan. Merekapun menaikkan perkiraan konsumsi kapas 0,3% menjadi 116,58 juta bal. (1 bal = 218 kilogram ).

"Situasi keseluruhan komoditas memang seret, beberapa trader mengharapkan akan ada rekor harga tertinggi lagi," kata Jack Scoville Wakil Presiden Price Futures Group, Inc di Chicago, seperti dilaporkan kontan, hari ini.

MNC Targetkan Laba Bersih 2011, Rp1,02 Triliun

JAKARTA – Tren pertumbuhan ekonomi yang dinilai terus meningkat membuat PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) menargetkan laba bersih perusahaan itu di 2011 sebesar Rp1,02 triliun, dengan estimasi pendapatan konsolidasi perseroan sebesar Rp6,13 triliun.

”Kami sangat yakin target dapat tercapai karena tren pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Dengan estimasi pertumbuhan lebih dari 6% yang dipicu oleh pertumbuhan konsumsi yang tinggi, selanjutnya memicu pertumbuhan belanja iklan yang tinggi lebih dari 15% pada 2011 ini,” kata CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan tertulisnya, seperti dilaporkan, seputar-indonesia.com, kemarin.

Menurut Hary, pada 2011 ini perseroan akan tetap menyiarkan program - program dengan peringkat tinggi dalam bentuk sinetron, reality show, komedi situasi, acara musik, dan lainnya. Perusahaan juga akan terus berfokus untuk mengintensifikasi program in-house yang akan memberikan margin lebih tinggi. Karena dia berkeyakinan, MNC akan mendapatkan porsi mayoritas dari pertumbuhan iklan belanja yang tinggi.

Karena kekuatan yang berkelanjutan dari sebuah bisnis model yang sudah solid. “Khususnya karena kepemimpinan MNC yang signifikan di bisnis penyiaran. Di mana penyiaran TV mendapatkan sekitar 70% dari total iklan belanja industri media,” ungkapnya.

Hary menjelaskan, media cetak saat ini mengalami momentum kenaikan sirkulasi dan kenaikan pendapatan dari iklan dan diharapkan dapat mendapatkan porsi yang baik dari total belanja iklan pada media cetak sebesar 26%. Hingga November 2010, MNC mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp4,37 triliun, naik 36% dibandingkan dengan kinerja tahun lalu sebesar Rp3,21 triliun.

Pendorong utama peningkatan tersebut adalah dari kenaikan pendapatan iklan yang signifikan sebesar 41% dan dari content dan value added services yang tumbuh sebesar 10%.

Dengan sedikit peningkatan pada beban usaha, MNC mencatat laba usaha dengan pertumbuhan yang tinggi yaitu sebesar 85%,dari Rp571 miliar pada 2009 menjadi Rp1,05 triliun pada 2010.

EBITDA meningkat sebesar 67%, dari Rp727 miliar pada 2009 menjadi Rp1,21 triliun pada 2010. Peningkatan pun terjadi untuk laba bersih sebesar 72%, dari Rp375 miliar pada 2009 menjadi Rp646 miliar di tahun 2010.

Kinerja MNC yang sangat baik terutama didukung oleh bisnis penyiaran di mana pendapatan iklan dari TV memberikan kontribusi sebesar 77% terhadap pendapatan konsolidasi MNC.

Secara keseluruhan, MNC mencapai 42% pangsa pemirsa di minggu terakhir di tahun 2010. Ke depannya, MNC telah berhasil mendapatkan beberapa program olahraga yang berpotensi memiliki rating tinggi, seperti Barclays Premier League untuk tiga musim, Euro Cup untuk tahun 2012 dan 2016, AFF Championship2012, AFC Asian Cup 2011, dan AFC Championship League untuk tahun 2011 dan 2012.

Analis dari Indosurya Securities Reza Priyambada mengatakan, pada tahun ini emiten sektor media massa masih berpotensi untuk terus tumbuh.

Selain karena tingkat persaingannya tidak seketat sektor pertambangan, masyarakat Indonesia sangat haus akan informasi dan hiburan. ”Tidak heran kalau sebagian besar pelaku usaha pada sektor ini terus mendapatkan keuntungan,” jelas dia.

MNC Targetkan Laba Bersih 2011, Rp1,02 Triliun

JAKARTA – Tren pertumbuhan ekonomi yang dinilai terus meningkat membuat PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) menargetkan laba bersih perusahaan itu di 2011 sebesar Rp1,02 triliun, dengan estimasi pendapatan konsolidasi perseroan sebesar Rp6,13 triliun.

”Kami sangat yakin target dapat tercapai karena tren pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Dengan estimasi pertumbuhan lebih dari 6% yang dipicu oleh pertumbuhan konsumsi yang tinggi, selanjutnya memicu pertumbuhan belanja iklan yang tinggi lebih dari 15% pada 2011 ini,” kata CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan tertulisnya, seperti dilaporkan, seputar-indonesia.com, kemarin.

Menurut Hary, pada 2011 ini perseroan akan tetap menyiarkan program - program dengan peringkat tinggi dalam bentuk sinetron, reality show, komedi situasi, acara musik, dan lainnya. Perusahaan juga akan terus berfokus untuk mengintensifikasi program in-house yang akan memberikan margin lebih tinggi. Karena dia berkeyakinan, MNC akan mendapatkan porsi mayoritas dari pertumbuhan iklan belanja yang tinggi.

Karena kekuatan yang berkelanjutan dari sebuah bisnis model yang sudah solid. “Khususnya karena kepemimpinan MNC yang signifikan di bisnis penyiaran. Di mana penyiaran TV mendapatkan sekitar 70% dari total iklan belanja industri media,” ungkapnya.

Hary menjelaskan, media cetak saat ini mengalami momentum kenaikan sirkulasi dan kenaikan pendapatan dari iklan dan diharapkan dapat mendapatkan porsi yang baik dari total belanja iklan pada media cetak sebesar 26%. Hingga November 2010, MNC mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp4,37 triliun, naik 36% dibandingkan dengan kinerja tahun lalu sebesar Rp3,21 triliun.

Pendorong utama peningkatan tersebut adalah dari kenaikan pendapatan iklan yang signifikan sebesar 41% dan dari content dan value added services yang tumbuh sebesar 10%.

Dengan sedikit peningkatan pada beban usaha, MNC mencatat laba usaha dengan pertumbuhan yang tinggi yaitu sebesar 85%,dari Rp571 miliar pada 2009 menjadi Rp1,05 triliun pada 2010.

EBITDA meningkat sebesar 67%, dari Rp727 miliar pada 2009 menjadi Rp1,21 triliun pada 2010. Peningkatan pun terjadi untuk laba bersih sebesar 72%, dari Rp375 miliar pada 2009 menjadi Rp646 miliar di tahun 2010.

Kinerja MNC yang sangat baik terutama didukung oleh bisnis penyiaran di mana pendapatan iklan dari TV memberikan kontribusi sebesar 77% terhadap pendapatan konsolidasi MNC.

Secara keseluruhan, MNC mencapai 42% pangsa pemirsa di minggu terakhir di tahun 2010. Ke depannya, MNC telah berhasil mendapatkan beberapa program olahraga yang berpotensi memiliki rating tinggi, seperti Barclays Premier League untuk tiga musim, Euro Cup untuk tahun 2012 dan 2016, AFF Championship2012, AFC Asian Cup 2011, dan AFC Championship League untuk tahun 2011 dan 2012.

Analis dari Indosurya Securities Reza Priyambada mengatakan, pada tahun ini emiten sektor media massa masih berpotensi untuk terus tumbuh.

Selain karena tingkat persaingannya tidak seketat sektor pertambangan, masyarakat Indonesia sangat haus akan informasi dan hiburan. ”Tidak heran kalau sebagian besar pelaku usaha pada sektor ini terus mendapatkan keuntungan,” jelas dia.