Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

POLITIKAL NEWS

Poros Barito

Technology

KRIMINALITAS

ANTI KORUPTOR

Sports

POROS KALTENG

Ini dia Bisnis yang Membuat Orang Kaya Baru di RI

JAKARTA - Kelas menengah Indonesia tumbuh sangat pesat dalam satu dekade ini. Dari 1999 hingga 2009, kelompok menengah ini telah melonjak dua kali lipat dari 45 juta jiwa menjadi 93 juta jiwa.

Ekonom Dradjad Wibowo menyebutkan pertumbuhan kelompok menengah tersebut lebih didorong oleh perkembangan pesat sejumlah sektor bisnis, reformasi kebijakan ekonomi dan politik, serta otonomi daerah.

Dalam beberapa tahun ini, pertumbuhan kelas menengah bahkan meningkat cukup pesat di daerah, khususnya di Sumatra dan Kalimantan. "Banyak politisi, pimpinan ormas dan pebisnis daerah yang beruntung dengan otonomi daerah serta kenaikan harga komoditas dunia."

Sedangkan, di kota-kota besar, menurut Dradjad, pertumbuhan kelas menengah muncul dari booming di sektor keuangan, teknologi informasi dan industri kreatif. Mereka yang beruntung adalah para pekerja dan eksekutif kantoran, wirausahawan baru, para profesional serta anak-anak muda yang terjun di industri kreatif. Mereka umumnya adalah kelompok yang menempuh pendidikan tinggi dan terbiasa dengan Internet.

"Mereka ini masuk kategori kelompok orang mapan atau kaya baru. Pertumbuhan kelompok ini sangat pesat," kata Dradjad di Jakarta, seperti dilaporkan VIVAnews.com .

Jika mengacu data Badan Pusat Statistik berdasarkan jumlah pengeluaran, mereka masuk kelompok menengah-tengah jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat, dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa dalam satu dekade.

Kelompok menengah-atas bahkan naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.

Sementara, Data BPS 2010 menyebutkan dari 83,6 juta pekerja berpenghasilan tetap di Indonesia, sebanyak 30 persen atau 25,08 juta jiwa masuk kategori kelas menengah dengan pendapatan US$5.356 atau Rp48,25 juta per tahun.

Selanjutnya golongan atas berjumlah 10 persen atau 8,36 juta jiwa rata-rata penghasilannya US$14.198 atau Rp127,9 juta per tahun. Untuk lebih memperjelas bagaimana sektor-sektor bisnis tersebut menjadi sumber penghasilan orang-orang kaya baru, berikut ini penjelasannya:

Sektor keuangan
Sektor keuangan merupakan salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia. Khusus sektor perbankan telah mengalami pertumbuhan sangat signifikan dalam satu dekade. Pada tahun 2000, total aset perbankan sekitar Rp1000 triliun, namun pada akhir 2009 sudah melonjak tajam menjadi Rp2500 triliun. Itu belum termasuk industri asuransi, reksa dana dan pasar modal.

Sektor pertanian
Sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit yang berkembang pesat menjadi sumber pertumbuhan orang kaya Indonesia. Banyak petani-petani perkebunan kelapa sawit kini makin sejahtera. Bahkan, tak sedikit kalangan elit daerah, mulai dari politisi, ormas yang kini menjadi orang kaya baru.

"Mereka dulunya biasa-biasa saja, dengan adanya otonomi daerah, mereka kini umumnya punya kebun sawit minimal 100 hektare hingga ribuan hektare," ujar Dradjad yang gemar ke daerah sebagai Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Sejumlah miliarder Indonesia, menurut Forbes, juga merupakan orang kaya Indonesia yang mengandalkan bisnis dari perkebunan kelapa sawit.

Sektor pertambangan
Pertambangan, khususnya batu bara, menurut Dradjad Wibowo, merupakan sumber pertumbuhan orang kaya baru Indonesia. Seperti halnya perkebunan sawit, jika dulu sumber alam dikuasai oleh kelompok terbatas, sekarang penguasaan atas aset-aset sumber alam seperti batu bara lebih meluas ke elit-elit politik, pebisnis lokal dan ormas yang memiliki akses lebih mudah terhadap pimpinan di daerah. Beberapa miliarder baru Indonesia yang masuk majalah Forbes, juga orang-orang yang bergerak di tambang batu bara.

Teknologi informasi
Teknologi informasi merupakan salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia. Sektor telekomunikasi merupakan sektor yang tumbuh paling pesat. Indonesia merupakan pasar ponsel terbesar di Asia Tenggara. Internet juga tumbuh signifikan. Tak heran jika bermunculan pebisnis baru di sektor hilir seperti maraknya pedagang ponsel hingga bermunculannya perusahaan-perusahaan konten penunjang.

Industri kreatif
Industri Kreatif merupakan salah satu industri yang makin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Industri ini antara lain fashion, musik, film, budaya, teknologi, kuliner, batik dan kerajinan. Menurut Dradjad, tumbuhnya industri kreatif didorong oleh anak-anak muda Indonesia yang sekolah di luar negeri, juga yang sekolah di dalam negeri namun kreatif memanfaatkan keahlian mereka. Kebanyakan mereka juga memasarkan produk-produknya lewat Internet.

MNC Targetkan Laba Bersih 2011, Rp1,02 Triliun

JAKARTA – Tren pertumbuhan ekonomi yang dinilai terus meningkat membuat PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) menargetkan laba bersih perusahaan itu di 2011 sebesar Rp1,02 triliun, dengan estimasi pendapatan konsolidasi perseroan sebesar Rp6,13 triliun.

”Kami sangat yakin target dapat tercapai karena tren pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Dengan estimasi pertumbuhan lebih dari 6% yang dipicu oleh pertumbuhan konsumsi yang tinggi, selanjutnya memicu pertumbuhan belanja iklan yang tinggi lebih dari 15% pada 2011 ini,” kata CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan tertulisnya, seperti dilaporkan, seputar-indonesia.com, kemarin.

Menurut Hary, pada 2011 ini perseroan akan tetap menyiarkan program - program dengan peringkat tinggi dalam bentuk sinetron, reality show, komedi situasi, acara musik, dan lainnya. Perusahaan juga akan terus berfokus untuk mengintensifikasi program in-house yang akan memberikan margin lebih tinggi. Karena dia berkeyakinan, MNC akan mendapatkan porsi mayoritas dari pertumbuhan iklan belanja yang tinggi.

Karena kekuatan yang berkelanjutan dari sebuah bisnis model yang sudah solid. “Khususnya karena kepemimpinan MNC yang signifikan di bisnis penyiaran. Di mana penyiaran TV mendapatkan sekitar 70% dari total iklan belanja industri media,” ungkapnya.

Hary menjelaskan, media cetak saat ini mengalami momentum kenaikan sirkulasi dan kenaikan pendapatan dari iklan dan diharapkan dapat mendapatkan porsi yang baik dari total belanja iklan pada media cetak sebesar 26%. Hingga November 2010, MNC mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp4,37 triliun, naik 36% dibandingkan dengan kinerja tahun lalu sebesar Rp3,21 triliun.

Pendorong utama peningkatan tersebut adalah dari kenaikan pendapatan iklan yang signifikan sebesar 41% dan dari content dan value added services yang tumbuh sebesar 10%.

Dengan sedikit peningkatan pada beban usaha, MNC mencatat laba usaha dengan pertumbuhan yang tinggi yaitu sebesar 85%,dari Rp571 miliar pada 2009 menjadi Rp1,05 triliun pada 2010.

EBITDA meningkat sebesar 67%, dari Rp727 miliar pada 2009 menjadi Rp1,21 triliun pada 2010. Peningkatan pun terjadi untuk laba bersih sebesar 72%, dari Rp375 miliar pada 2009 menjadi Rp646 miliar di tahun 2010.

Kinerja MNC yang sangat baik terutama didukung oleh bisnis penyiaran di mana pendapatan iklan dari TV memberikan kontribusi sebesar 77% terhadap pendapatan konsolidasi MNC.

Secara keseluruhan, MNC mencapai 42% pangsa pemirsa di minggu terakhir di tahun 2010. Ke depannya, MNC telah berhasil mendapatkan beberapa program olahraga yang berpotensi memiliki rating tinggi, seperti Barclays Premier League untuk tiga musim, Euro Cup untuk tahun 2012 dan 2016, AFF Championship2012, AFC Asian Cup 2011, dan AFC Championship League untuk tahun 2011 dan 2012.

Analis dari Indosurya Securities Reza Priyambada mengatakan, pada tahun ini emiten sektor media massa masih berpotensi untuk terus tumbuh.

Selain karena tingkat persaingannya tidak seketat sektor pertambangan, masyarakat Indonesia sangat haus akan informasi dan hiburan. ”Tidak heran kalau sebagian besar pelaku usaha pada sektor ini terus mendapatkan keuntungan,” jelas dia.

Raih Penghasilan Besar di Sektor Bisnis Ini

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 25,08 juta jiwa atau 30 persen dari pekerja yang menerima pendapatan mempunyai penghasilan US$5.356 atau Rp48,25 juta per tahun atau termasuk golongan menengah. Sedangkan untuk golongan atas atau 8,36 juta jiwa rata-rata penghasilannya US$14.198 atau Rp127,9 juta per tahun.

Kepala BPS Rusman Heriawan menjelaskan pekerja yang masuk dalam golongan menengah dan atas merupakan pekerja sektor formal. Mereka yang bergaji Rp48,25 juta dan Rp127,9 juta itu terdiri dari pekerja industri, pertambangan, perbankan dan jasa (service). Sementara yang masuk dalam golongan bawah diisi oleh sektor pertanian dan perdagangan kecil seperti pedagang kaki lima.

"Untuk golongan atas lebih banyak diisi pekerja memiliki skill tinggi seperti sektor pertambangan, perbankan," ujar Rusman kepada situs VIVAnews.com di Jakarta, Selasa 4 Januari 2011.

Rusman berharap lapangan kerja industri sebaiknya makin luas. Hal itu dikarenakan sektor ini lebih menjamin pendapatan masyarakat agar tidak fluktuatif.

Dari jumlah penduduk 237,6 juta, penduduk yang bekerja sebanyak 108,2 juta orang. Angka itu terdiri dari 83,6 juta orang bekerja yang menerima pendapatan dan sisanya mempunyai usaha mandiri.

Dari 83,6 juta pekerja yang mempunyai pendapatan, 60 persen atau 50,15 juta jiwa mempunyai penghasilan rata-rata US$2.284 atau Rp20,57 juta per tahun atau termasuk golongan bawah.

Sisanya golongan menengah sebanyak 30 persen atau 25,08 juta jiwa mempunyai pendapatan US$5.356 atau Rp48,25 juta per tahun atau termasuk golongan menengah.

Sedangkan untuk golongan atas sebesar 10 persen atau 8,36 juta jiwa rata-rata penghasilannya US$14.198 atau Rp127,9 juta per tahun.

Penerbangan Tambah 59 Ribu Kursi

SUARAPUBLIC.COM - Penerbangan di Indonesia telah menyiapkan tambahan sebanyak sekitar 59 ribu lebih kursi untuk mengantisipasi Natal dan Tahun Baru 2011. Berdasarkan rekapitulasi penerbangan tambahan yang dirilis Kementerian Perhubungan disebutkan ekstra flight tersebut terdiri dari untuk rute domestik sebanyak 20.900 kursi dengan 96 frekuensi.

Sedangkan untuk rute internasional disediakan sebanyak38.540 kursi tambahan dari rencana 156 penerbangan dari dan ke Indonesia. Sebagai contoh, Garuda telah menyiapkan sebanyak 14 ribu kursi tambahan selama masa peak season akhir tahun ini. Rute tergemuk yang biasa terjadi saat masa libur ini adalah Jakarta-Denpasar.

Kali ini pun jadi rebutan tiga maskapai. Garuda menyiapkan sebanyak 14 kali penerbangan dengan kapasitas 5.670 seat, sementara Indonesia AirAsia menyiapkan 40 penerbangan dengan 7.200 kursi. Lion Air membidik rute Jakarta-Yogyakarta dengan 20 kali penerbangan berkapsitas 4.260 penumpang. Sedangkan Mandala akan menambah enam penerbangan di rute itu dengan kapasitas 1.080 orang.

Sementara untuk rute regional, sebanyak 38.540 akan dilayani oleh sembilan maskapai. Ke-9 maskapai itu adalah Garuda, Indonesia AirAsia, Mandala, China Airlines, Silk Air, Strategic Air, Singapore Airlines, Transaero dan Malaysia Airlines. Rute-rute yang dilayani antara lain Jakarta-Singapura, Denpasar-Perth, Jakarta-Hongkong, Jakarta-Taipei, Surabaya-Singapura,Denpasar-Perth, Singapura-Denpasar, dan Medan-Kuala Lumpur.

Head of Communication Corporate Mandala, Nurmaria Sarosa menjelaskan, pihaknya akan menambah kapasitas di dua rute regional yaitu Jakarta-Singapura dan Jakarta-Hongkong. "Kalau ke Singapura biasanya satu kali, maka kita menambah jadi dua kali sehari, sedangkan ke Hongkong yang biasanya seminggu empat kali menjadi tujuh kali sepekan," ujarnya, Selasa (21/12/2010).(*)

Lima Negara Penanam Modal Terbesar di Indonesia

SUARAPUBLIC.COM - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan mengungkapkan, lima negara menjadi investor asal penanam modal asing terbesar di Indonesia pada 2010. "Kelima negara itu adalah Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Mauritius," ujar Gita, Senin (20/12/2010).

Gita memaparkan, kelima negara tersebut sebagian besar menanamkan modal di sektor infrastruktur, telekomunikasi, logistik, agroindustri, dan pertambangan.

Gita menjelaskan BKPM akan terus mendorong penanaman modal untuk pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan infrastruktur di luar pulau Jawa. Lima tahun terakhir, sebanyak 80 persen penanaman modal dilakukan di Pulau Jawa dan 20 persen di luar Jawa. Namun, pada 2010, porsi investasi di luar Jawa sudah meningkat menjadi 30 persen. "Investasi PMDN juga sudah meningkat menjadi 25-30 persen," sebutnya.

Untuk 2011, Gita menargetkan investasi asing dan dalam negeri di Indonesia akan mencapai Rp 230 triliun atau naik 15 persen dari realisasi 2010 yang ditargetkan mencapai Rp200 triliun. "Target tahun depan kami tidak mau muluk-muluk," terangnya.

Untuk stimulus investasi PMDN, BKPM menargetkan tiga dari lima proyek Private Public Partnership (PPP) akan diberikan kepada investor dalam negeri. Tiga proyek itu antara lain, PLTU di Jawa Tengah, Water Treatment Unggulan di Jawa Timur dan Proyek rel kereta api Manggarai - Bandara Soekarno-Hatta. Total investasi ketiganya mencapai US$3-4 Miliar.(*)

Telkom harus Tegaskan Kepastian Merger TelkomFlexi-Esia


SUARAPUBLIC.COM - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) harus segera menegaskan, kepastian jadi atau tidaknya rencana merger TelkomFlexi dengan Esia.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menilai, ketidakpastian rencana konsolidasi tersebut telah memicu munculnya berbagai spekulasi yang meresahkan internal perusahaan Telkom. Hal itu terlihat dari ancaman mogok kerja serikat karyawan (sekar) perusahaan pelat merah tersebut jika konsolidasi tetap dilakukan.

Extra $20 off our best phones"Masalah ini sudah cukup berlarut-larut, sampai akibatnya sekarang Sekar menolak. Telkom harus segera menegaskan, jadi merger atau tidak. Sehingga tidak membuat kegelisahan di dalam perusahaan. Kalau tidak tegas, dampaknya tidak baik bagi kondisi perusahaan," katanya, kemarin.

Heru berpendapat, kegelisahan yang dialami internal Telkom wajar. Pasalnya, rencana konsolidasi antara kedua operator itu akan berdampak pada kelangsungan pekerjaan mereka di kemudian hari. Terlebih, hingga saat ini mereka tidak memeroleh kejelasan bagaimana pola konsolidasi akan dilakukan jika rencana itu diwujudkan.

"Ketidaktenangan dalam Telkom pasti ada. Terlebih buat orang-orang yang merasa sudah membangun dan membesarkan Flexi selama ini. Mereka terancam posisinya. Karena rencana yang tidak jelas, juga polanya tidak diketahui, mereka tidak tenang menerka-nerka apakah nanti akan bekerja di Esia atau kehilangan pekerjaannya," pungkasnya.(*)


SPBU Asing Bakal Kebanjiran Pelanggan

SUARAPUBLIC.COM - Pengamat perminyakan, Kurtubi, menegaskan bahwa salah satu dampak pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) asing akan kebanjiran pelanggan.

"Ini otomatis, karena konsumen tidak boleh beli premium, SPBU asing akan kebanjiran pelanggan yang luar biasa," kata Kurtubi Rabu (15/12/2010).

Kurtubi memaparkan, dengan pembatasan BBM yang dirancang berlaku di seluruh wilayah Indonesia, SPBU asing juga memiliki peluang yang cukup besar dan merata. Bahkan di kota-kota kecil sekalipun, bisnis BBM ini sangat menguntungkan.

Penjualan BBM non subsidi, diperkirakan Kurtubi, akan memberikan keuntungan sekitar Rp 500 per liter. Apabila penghematan yang ditargetkan pemerintah untuk wilayah Jabodetabek sebanyak 500.000 kiloliter untuk permulaan, dengan harga jual di kisaran Rp 6.900 per liter, maka akan tercapai omset sekitar Rp 35 miliar yang diperebutkan oleh SPBU penyedia BBM non subsidi.

Namun, persaingan antar SPBU tersebut diperkirakan akan lebih ditekankan dengan persaingan di mutu layanan. Hal ini karena harga jual BBM non subsidi yang relatif sama dimanapun. "Paling selisih cuma sekitar Rp 50 rupiah, tidak signifikan," katanya.

Pernyataan serupa dilontarkan oleh pengamat perminyakan dari Reforminer Institute, Pri Agung. Menurut Pri, potensi perebutan pasar akan sebanding dengan jumlah premium yang ditargetkan untuk penghematan "Kalau untuk Jabodetabek awal 500.000 kiloliter, lantas Jawa-Bali empat juta kiloliter, maka itulah potensi yang diperebutkan," katanya.

Tetapi, kemungkinan pemilik SPBU asing melakukan ekspansi usaha ke luar Jawa maupun Bali diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu dekat. Soalnya, para pengusaha akan melihat dulu perkembangan dan keberhasilan program pembatasan BBM tahap awal.(*)


Mandiri Investasi Kejar Rp159 Miliar

SUARAPUBLIC.COM - PT Mandiri Manajemen Investasi atau lebih dikenal sebagai Mandiri Investasi berinisiatif untuk mengemas produk Kontrak Investasi Kolektif atau Reksa Dana dengan menggunakan Efek Beragun Aset atau EBA sebagai dasar aset yang ditransaksikannya. Produk ini diharapkan terbit pada 4 Januari 2011 bernilai Rp159 miliar.

"Kami membuat terobosan baru dengan menggunakan EBA sebagai underlying asset (aset yang menjadi dasar transaksi) pada produk reksa dana kami nanti. Ini memanfaatkan kemajuan terakhir di industri keuangan yang telah mendorong BTN (Bank Tabungan Negara) menjual EBA. Hanya BTN yang saat ini sudah menjual kredit kepemilikan rumah mereka sebagai EBA. Peluang ini yang kami ambil,” jelas Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi, Andreas Muljadi Gunawidjaja, Rabu (15/12/2010).

Andreas mengatakan, EBA yang dibelinya tersebut diambil dari pasar modal secara langsung, yakni produk EBA Danareksa SMF II kelas A. Ini artinya EBA dari PT Sarana Multigriya Finansial/ SMF dengan kualitas terbaik yang diterbitkan oleh PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin emisinya.

"Jadi kami pun tidak langsung membeli EBA dari Danareksa, tetapi dari pasar sekunder. EBA layak menjadi underlying asset reksa dana karena memiliki keuntungan yang tetap. Sebagai gambaran, ada satu kredit pemilikan rumah dengan nilai rumahnya senilai Rp 100 juta. Lama kelamaan harga rumah itu akan jauh lebih tinggi dari nilai kreditnya sendiri, sehingga risiko kerugian akan sangat minim," katanya.

Inisiatif ini sepertinya menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini tidak bisa mengakses pembelian EBA secara langsung. Sebab selama ini, reksa dana EBA memang banyak diserap institusi. Produk reksa dana ini nantinya akan diberi nama Mandiri Investa Terproteksi Pendapatan Berkala Seri 6 (Manivest 6).

Masa jatuh tempo maksimum Manivert 6 ini adalah tahun 2019, dengan mempertimbangkan masa jatuh tempo KPR yang diambil. Akan tetapi, masa jatuh tempo ini dapat berlangsung lebih cepat menjadi tahun 2015 jika pemegang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melunasi kreditnya lebih awal.(*)


ADB Siap Bantu RI 200 Juta Dollar AS

SUARAPUBLIC.COM - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyediakan 200 juta dollar AS bagi Indonesia untuk melanjutkan reformasi guna memacu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan upaya pemerintah mengurangi kemiskinan.

Siaran pers ADB pada Selasa (14/12/2010) menyebutkan bahwa Dewan Direktur ADB menyetujui pinjaman Program Bantuan Pengembangan Kebijakan Keenam, yang terakhir dari rangkaian inisiatif membantu Pemerintah Indonesia mendorong reformasi dalam jangka menengah dan agenda pembangunan.

Pinjaman program yang dimulai pada 2004 itu disiapkan bersama-sama dengan Bank Dunia dan Pemerintah Jepang. "Reformasi yang terakhir ini akan membantu mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam jangka menengah," jelas Ekonom Senior ADB, Edimon Ginting, di Jakarta.

Menurut Edimon, ADB telah mencapai banyak kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi pertumbuhan ekonomi masih di bawah angka sebelum krisis keuangan Asia pada tahun 1997 dan 1998. Sementara itu, sekitar 40 persen dari penduduk masih berada sedikit di atas garis kemiskinan, yang membuat mereka rentan terhadap guncangan ekonomi.

Upaya-upaya untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mengurangi kemiskinan, dan memperbaiki akses penyediaan layanan umum telah menjadi prioritas utama pemerintah.

Pinjaman program untuk reformasi yang keenam difokuskan pada perbaikan iklim investasi, memperkuat manajemen keuangan publik, tata kelola pemerintahan, meningkatkan upaya pengurangan kemiskinan, dan akses rakyat miskin untuk mendapatkan layanan publik.

Program tersebut mencakup inisiatif seperti dibuatnya pelayanan terpadu satu pintu untuk investasi nasional, menyederhanakan prosedur perizinan untuk investasi, dan menyusun kerangka kerja logistik nasional.(*)


Aceh Bakal Jadi Lumbung Kedelai Nasional

SUARAPUBLIC.COM - Menteri Pertanian Suswono mengatakan, Aceh dipersiapkan sebagai salah satu daerah lumbung kedelai nasional guna mendukung capaian swasembada komoditas tersebut pada 2014.

"Untuk mencapai swasembada pada 2014 itu, maka Aceh akan kita jadikan sebagai salah satu daerah andalan penghasil kedelai terbesar nasional," ucapnya di Banda Aceh, Sabtu (11/12/2010).

Hal itu disampaikan Mentan Suswono usai berdialog dengan sejumlah pejabat dan PNS instansi terkait, seperti dinas pertanian dan peternakan provinsi dan kabupaten/kota se Aceh.

Kementerian Pertanian akan membantu pengadaan benih kedelai gratis kepada petani dan cocok dikembangkan di wilayah tertentu di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Suswono menambahkan, Aceh sejak dulu potensi pangannya cukup kuat, terutama komoditas kedelai, bahkan pernah menjadi andalan nasional.

"Memang saat ini, khususnya kedelai di Aceh agak terpuruk karenan beberapa faktor, yakni produktivitas agak rendah dan harganya kurang menarik bagi petani karena lebih rendah dari harga kedelai impor," imbuhnya.

Suswono menyebutkan, pemerintah akan mengupayakan peningkatan produktivitas untuk menutupi harga yang selama ini kurang menguntungkan petani yakni berkisar Rp7.000/kilogram.(*)


Harga CPO Capai Rekor Tertinggi

SUARAPUBLIC.COM - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Jumat (10/12/2010), mencetak rekor tertinggi dalam 29 bulan terakhir. Kontrak CPO untuk pengiriman Februari 2011 di Malaysia Derivative Exchange tercatat senilai US$1.153 per ton.

Menguatnya harga CPO dilatari tingginya permintaan minyak sawit mentah di penghujung tahun. Itu berbentuk fisik maupun kontrak berjangka. Namun sejumlah pengamat khawatir lonjakan permintaan produksi CPO menurun akibat curah hujan tinggi.

Minyak sawit mentah bentuk fisik laris karena produk turunannya makin banyak digunakan. Misalnya minyak goreng, yang marak dimanfaatkan untuk berbagai perayaan jelang tutup tahun.

Ketika penawaran meningkat, produksi CPO Malaysia turun 2,27 persen. Sepanjang tahun ini Malaysia diperkirakan memproduksi 17,2 juta ton. Sedangkan Indonesia, 21,8 persen. Para Analis memperkirakan CPO memperbaharui rekor tertinggi di awal tahun depan. Taksirannya mencapai US $1.200 hingga US$1.250 per ton.(*)



Laba Bersih Elnusa Anjlok

SUARAPUBLIC.COM - Laba bersih perusahaan minyak dan gas PT Elnusa, Tbk, salah satu perusahaan yang akan berinvestasi di Kabupaten Barito Utara, Kalteng, anjlok menjadi Rp12 miliar hingga kuartal III-2010.

Laba turun signifikan karena pada tahun 2009, terdapat laba hasil divestasi anak perusahaan (infomedia) sebesar Rp 334 miliar. Bahkan dengan kinerja yang terus digenjot pada kuartal IV-2010, diproyeksikan laba perusahaan, yang 41,10 persen sahamnya dimiliki PT Pertamina (persero) itu, hanya mencapai maksimal Rp 30 miliar.

"Sebenarnya, pendapatan tumbuh namun masih dibawah target. Banyak pembatalan proyek dan delay, yang menyebabkan turunnya pendapatan dari land seismic, di antaranya karena faktor cuaca buruk dan sulitnya perizinan," kata Direktur Utama Elnusa, Suharyanto, Rabu (8/12/2010) dalam Public Expose Elnusa 2010.

Pendapatan dari Integrated Drilling Service (EDS) pun menurun sebesar 15 persen, dari Rp 384 miliar (kuartal III-2009) menjadi Rp 327 miliar (kuartal III-2010). Hal ini dipengaruhi oleh kerugian pada modular rig berteknologi tinggi. Ada kerusakan pada modular rig itu, tapi kini sedang diperbaiki.

Jumlah saham Elnusa yang beredar saat ini mencapai 7,288 miliar lembar saham; di mana dimiliki oleh Pertamina (41,10 persen), PT Benakat Petroleum Energy Tbk (37,15 persen), Masyarakat (20,38 persen), dan treasury stock (1,37 persen).

Investor malaysia garap industri sawit di Kaltim

Metro Kajang Group, investor asal Malaysia, memberikan sinyal untuk masuk ke investasi industri hilir kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim).

"Dubes Malaysia tadi menyampaikan ada satu investor sawit di Kaltim yang bersedia untuk membuat processing plant sawit di sisi hilirnya, termasuk untuk pakan ternak. Nama perusahaannya Metro Kajang Group," kata Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, hari ini.

Perusahaan tersebut, telah 2 tahun beroperasi di Kaltim. "Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah yang akan dikembangkan kluster industri berbasis sawit," sebutnya, dikutif dari situ Bisnis.com, kemaren.

Menurut Hidayat pihaknya mempersilahkan Metro Kajang untuk membuat proposal bisnis yang akan ditindaklanjuti oleh Dirjen Industri Berbasis Agro Kemenperin. "Tetapi syarat mutlak mereka harus ke hilir, pemerintah, saya nyatakan pasti akan mendukung dengan menyediakan insentif fiskal dan allowance."

Hanya saja, Hidayat mengingatkan, untuk permintaan penambahan lahan, Kemenperin tidak memiliki kewenangan untuk menangani. "Kami bisa koordinasi dengan Pemda dan Kementerian Pertanian."

Hidayat juga menjelaskan pemerintah tengah mempersiapkan beberapa kluster industri di berbagai daerah di luar Jawa. Dia mencontohkan industri nikel akan dipusatkan di Sulawesi, food estate di Papua, sedangkan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur akan menjadi pusat industri peternakan.

"Kami juga akan mengaitkannya dengan kawasan ekonomi khusus," katanya.

Enam Investor Kembalikan Dokumen Proyek KA 185 Km

Sebanyak enam dari 15 investor pembangunan proyek jalan kereta api Puruk Cahu-Bangkuang, Kalimantan Tengah sepanjang 185 kilometer (km) diakui mengembalikan dokumen ke pemerintah.

"Dari 15 investor yang mengambil dokumen, enam investor mengembalikan dokumen. Dari enam itu masih sisa empat investor," ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Syahrin Daulani, di Jakarta, dikutif dari situs Okezone.com, Kamis (4/11/2010).

Namun investor mana saja telah mengembalikan dokumen enggan dibeberkannya. Nanti katanya, akan mengumumkannya ketika memang sudah ada pemenangnya. Begitu juga dengan empat investor yang belum menyerahkan dokumen.

"Saya tidak mau sebut, nantilah kalau sudah jadi pemenang. Saya enggak enak menyebutnya. Yang jelas, investor itu satu lokal, sedangkan kelimanya asing. Negaranya saya tidak mau sebut," katanya.

Adapun proyek tersebut akan selesai pada 2014 dengan investasi sebesar USD2,2 miliar. Dia menambahkan, bila proyek ini nantinya akan ada rel kereta api yang menghubungkan Puruk Cahu-Bangkuang sepanjang 185 km.

"Nanti kalau tahap pertama bisa mengangkut 10 juta ton. Nanti empat sampai lima tahun ke depan bisa naik hingga 20 juta ton. Saat ini produksi batu bara Kalteng hanya sebesar dua juta ton. Sebenarnya bisa lebih lagi tapi karena masalah transportasi, sehingga hanya bisa memproduksi dua juta ton," tutupnya.

Laba BRI Kalahkan Mandiri & BCA

PT.BRI (Bank Rakyat Indonesia Tbk) mampu meraih laba setelah pajak sebesar Rp6,6 triliun selama sembilan bulan pertama 2010. Perolehan itu menjadikan BRI sebagai bank yang mencatatkan laba tertinggi di Indonesia dalam lima tahun terakhir.

Per 30 September 2010, laba BRI itu meningkat 25,56 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Bahkan, bila dibanding bank beraset terbesar di Indonesia, yakni PT Bank Mandiri Tbk, laba BRI masih lebih tinggi, termasuk mengalahkan laba BCA, bank terbesar ketiga di Indonesia.

Pada periode sama, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp6,4 triliun. Perolehan laba Mandiri itu tumbuh 38,2 persen atau Rp1,8 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Sedangkan, BCA mampu meraup laba bersih sebesar Rp6,1 triliun atau tumbuh 20 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp5,09 triliun.

Direktur Operasional BRI, Sarwono Sudarto, seperti dikutif dari vivanews.com mengatakan, pertumbuhan laba perseroan di antaranya tertopang pada peningkatan penyaluran kredit di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Kredit di sektor itu mengontribusi pendapatan yang cukup besar dari bunga pinjaman. Pertumbuhan kredit di sektor UMKM itu mencapai 29 persen," jelasnya, dalam paparan kinerja BRI di Jakarta, Jumat 29 Oktober 2010.

Sementara itu, untuk mengantisipasi persaingan penyaluran kredit di sektor UMKM yang semakin ketat, BRI menerapkan beberapa strategi.

Selama setahun terakhir, sebanyak 1.116 kantor baru telah dimanfaatkan untuk kepentingan jaringan UMKM. Termasuk di antaranya dengan membuka 'teras' (kantor kas) yang tahun ini sekitar 400 unit.

"Tahun depan, teras yang dibuka lebih dari 1.000 unit. Teras BRI' dikembangkan di lingkungan pasar, khususnya pasar tradisional," timpalnya.

Hingga 2015, Sarwono menjelaskan, BRI akan terus mengembangkan outlet-outlet tersebut karena memiliki kontribusi yang cukup besar bagi kinerja perseroan. Kontribusi itu menyangkut pertumbuhan aset, dana pihak ketika (DPK), pembiayaan (lending), maupun peningkatan laba.

BRI Enggan Ikuti BI Soal Kepemilikan Tunggal

Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menginginkan kebijakan kepemilikan tunggal (single presence policy) dikecualikan untuk bank-bank pemerintah.

Direktur BRI, Ahmad Baiquni, menjelaskan, sebenarnya ada tiga opsi yang ditawarkan Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan yang akan mulai berlaku akhir 2010 ini.

Pertama, menjual sebagian kepemilikan dari pemegang saham pengendali. Kedua, melakukan penggabungan usaha atau merger, dan ketiga, membentuk induk usaha (holding) bank.

"Kami dimintai masukan pada waktu itu. Dan yang kami sampaikan adalah dampaknya minimal bagi perbankan," kata Baiquni di Jakarta, dikutif dari situs vivanews.com, kemaren.

Menurutnya, usulan BRI mengacu kondisi perbankan di negara-negara lain seperti China dan India. Di negara tersebut, bank pemerintah bisa memiliki lebih dari satu bank. Apalagi, kontribusi bank pemerintah cukup signifikan terhadap perekonomian suatu negara.

BRI diduga berkepentingan terkait aturan itu karena saat ini perseroan sedang mengincar satu bank lagi untuk diakuisisi. Setelah membeli PT Bank Agroniaga Tbk, BRI juga berencana membeli PT Bank Bukopin Tbk.

Terkait kebijakan BI yang akan memberlakukan kenaikan giro wajib minimum (GWM) sebesar tiga persen, Direktur Operasional BRI, Sarwono Sudarto mengatakan, pihaknya tidak akan mempengaruhi kinerja perseroan. Karena pihaknya memiliki likuiditas yang cukup bagus.

Sebelumnya dilaporkan, BI menaikkan rasio GWM primer dari lima menjadi delapan persen dana pihak ketiga (DPK) rupiah. Pemenuhan tambahan GWM primer tiga persen itu akan diberikan remunerasi sebesar 2,5 persen per tahun.

BI juga menetapkan ketentuan GWM berdasar loan to deposit ratio (LDR) dengan batas bawah 78 persen dan batas atas 100 persen.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/19/PBI/2010 mensyaratkan tambahan GWM terkait LDR itu mulai berlaku pada 1 Maret 2011. Sementara itu, GWM primer minimal delapan persen mulai berlaku pada 1 November 2010.

PT. Indocement Raih Laba Mencapai Rp2,3 Triliun

Pasar semen makin laris manis. Menyebabkan volume penjualan domestik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (berkode saham INTP) hingga kuartal III-2010 meningkat sebesar 13,5 persen menjadi 9,4 juta ton dari periode sama 2009 sebesar 8,3 juta ton.

Sedangkan pangsa pasar perseroan meningkat 31,1 persen dibandingkan periode sama 2009 yang sebesar 29,7 persen.

Dani Handayani, sekretaris perusahaan Indocement, seperti dikutif dari vivanews.com mengatakan, kenaikan pangsa pasar itu didukung kelebihan kapasitas yang saat ini dimiliki perseroan.

Apalagi, Indocement merupakan satu-satunya produsen semen di Indonesia yang mengalami kelebihan kapasitas cukup signifikan dan mampu memenuhi pertumbuhan pasar domestik yang tinggi.

"Sedangkan penjualan ekspor klinker lebih rendah 30,7 persen menjadi 0,82 juta ton dari tahun lalu yang mencapai 1,18 juta ton. Penurunan ini karena perseroan fokus pada permintaan domestik yang tinggi," kata dia dalam publikasi laporan keuangan perseroan di Jakarta, kemaren.

Sementara itu, total volume penjualan perusahaan semen tersebut hingga kuartal III-2010 mencapai 10,2 juta ton atau lebih tinggi 8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebanyak 9,5 juta ton.

Kinerja Indocement per akhir September 2010 itu juga semakin kokoh, baik dari sisi penjualan maupun laba bersih dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pendapatan bersih Indocement naik 9,2 persen menjadi Rp8,11 triliun dari periode sama 2009 sebesar Rp7,42 triliun. Marjin laba kotor juga menggelembung 50,5 persen dari 47,7 persen atau sebesar Rp4,09 triliun dari tahun lalu Rp3,54 triliun.

Namun, beban usaha juga naik sekitar 13,2 persen menjadi Rp1,12 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya Rp989 miliar. Hal itu dipicu kenaikan biaya logistik, mengikuti kenaikan volume penjualan dan meningkatnya penjualan di luar Jawa.

Kendati demikian, laba usaha meningkat 16,7 persen menjadi Rp2,97 triliun dari 2009 yang membukukan Rp2,55 triliun. Sedangkan marjin laba usaha naik dari 34,3 persen menjadi 36,7 persen.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga melonjak 16,1 persen menjadi Rp3,44 triliun dari periode sama tahun lalu Rp2,96 triliun. "Laba bersih yang kita raih menjadi naik 27,5 persen dari Rp1,87 triliun menjadi Rp2,38 triliun," timpalnya.

Akibat Beban Meningkat, Laba Indosat Terpangkas

Seperti halnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang mencatat penurunan laba, PT Indosat Tbk juga membukukan keuntungan yang kurang menggembirakan.

Laba Indosat selama sembilan bulan pertama 2010 tergerus 63,4 persen dari Rp1,44 triliun menjadi Rp530,9 miliar. Penurunan laba itu di antaranya dipicu meningkatnya beban lain-lain yang mencapai Rp1,68 triliun.

Beban lain-lain itu meningkat 254 persen dibanding periode sama 2009 yang hanya Rp476,9 miliar. Meski demikian, pendapatan usaha mampu tumbuh 8,1 persen menjadi Rp14,8 triliun dibanding per 30 September 2009 senilai Rp13,7 triliun.

"Laba turun karena pergerakan di pasar valuta asing, kenaikan beban pendanaan, dan beban depresiasi serta amortisasi," kata Direktur Utama dan Chief Executive Officer (CEO) Indosat, Harry Sasongko, dalam publikasi laporan keuangan perseroan di Jakarta, seperti dikutif dari vivanews.com, Senin (01/11/2010) dini hari.

Meski laba tergerus, Indosat mampu membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp7,12 triliun atau naik 12,6 persen dari periode sama 2009 senilai Rp6,32 triliun.

Sementara itu, total utang perseroan selama periode itu juga meningkat 11,8 persen dari Rp24,4 triliun menjadi Rp27,3 triliun. Per 30 September 2010, pelanggan selular Indosat mencapai 39,7 juta pelanggan atau naik 40,9 persen dibanding periode sama 2009 sebanyak 28,2 juta pelanggan.

Menurut Harry, selama kuartal III-2010, bisnis selular Indosat tumbuh sebesar 6,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, atau meningkat 16,6 persen dibanding periode sama tahun lalu.

"Kami juga menyelesaikan program pendanaan ulang pada triwulan ketiga melalui penerbitan obligasi dalam mata uang dolar AS sebesar US$650 juta dengan bunga 7,37 persen berjangka waktu 10 tahun," pungkasnya.

Karena Biaya Tambang Bengkak, Laba PT.Adaro Menurun

Kenaikan biaya penambangan yang disebabkan oleh peningkatan nisbah kupas dan jarak angkut lapisan penutup yang lebih jauh, memicu peningkatan beban pokok pendapatan PT Adaro Energy Tbk sebesar 22 persen.

Kondisi itu menyebabkan laba operasi Adaro menurun 16 persen menjadi US$593 juta selama sembilan bulan pertama 2010. Akibatnya, laba bersih juga terkikis 43 persen menjadi US$186 juta, atau turun 52 persen menjadi Rp1,69 triliun dibanding periode sama 2009 senilai Rp3,51 triliun.

Sementara itu, laba bersih per saham turun menjadi Rp53 dari sebelumnya Rp109,9.

"Tahun ini cukup menyulitkan bagi perseroan karena curah hujan yang abnormal. Namun, prospek jangka panjang perseroan diklaim lebih baik dibanding sebelumnya," kata Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir, dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutif dari vivanews.com, Senin (01/11/2010) dini hari.

Namun, Garibaldi mengklaim dapat mempertahankan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$701 juta dan margin yang lebih tinggi dibanding rata-rata industri sebesar 35 persen.

Sedangkan pendapatan usaha konsolidasi selama periode tersebut meningkat enam persen hingga US$1,98 miliar, karena pertumbuhan produksi sebesar 12 persen. Walau demikian, pencapaian harga jual rata-rata turun tujuh persen.

Volume produksi dan penjualan Adaro Energy pada periode sembilan bulan 2010 masing-masing meningkat 12 persen menjadi 31,84 juta ton dan 32,36 juta ton.

Selanjutnya, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,45 kali dan akses kas US$1,2 miliar, kebijakan keuangan Adaro yang dijalankan secara hati-hati menghasilkan struktur permodalan yang diklaim kuat dan memberikan akses positif di pasar modal.

Adaro juga berkomitmen untuk melanjutkan pertumbuhan tahunan secara organik dan meningkatkan efisiensi rantal pasokan batu bara yang terintegrasi secara vertikal.

Upaya itu dimungkinkan meliputi integrasi ke hilir dengan merambah segmen pembangkit listrik. Selain itu, perseroan akan mengakuisisi atau berinvestasi pada cadangan batu bara yang berskala besar dan berkualitas tinggi di Indonesia.

Adaro kucurkan Rp 3 Miliar untuk kredit usaha mikro

PARINGING - PT Adaro Indonesia, perusahaan pertambangan batu bara yang beroperasi di Kabupaten Balangan dan Tabalong, Kalimantan Selatan, telah mengucurkan dana lebih dari Rp 3 Miliar untuk pemberian kredit usaha mikro.

Menurut CSR Manager PT Adaro, Abdurrahman di Paringin, ibu kota Balangan, Rabu (27/10), pemberian dana itu merupakan bagian dari program 'Corporate Social Responsibility' atau CSR.

"Dana itu kita kucurkan dalam bentuk modal pembiayaan bagi Lembaga Keuangan Mikrofinance (LKM) untuk dialokasikan kepada masyarakat di wilayah pertambangan PT Adaro," ujarnya.

LKM yang dinamakan Banua Bauntung itu telah di bangun lima kabupaten yang masuk dalam wilayah kerja PT Adaro Indonesia, yaitu Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Barito Selatan dan Barito Utara.

Pada pelaksanaannya, LKM Banua Bauntung memberikan pelayanan kredit usaha mikro bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada. "Badan hukum LKM berbentuk koperasi simpan pinjam dengan lima sektor usaha yang dibiayai olehnya, dengan penekanan pada UKM di wilayah kerja PT Adaro," katanya.

Lima sektor usaha yang diberikan pembiayaan melalui LKM Banua Bauntung meliputi perdagangan, jasa, pertanian, Industri Rumah Tangga (IRT) dan konsumtif. 2007 lalu LKM Banua Bauntung telah merealisasikan pinjaman dana Rp 5,6 Miliar lebih, masing-masing Rp 4,1 Miliar untuk sektor perdagangan, Rp 680 juta di sektor jasa, Rp 310 juta di sektor pertanian, dan Rp 375 juta di sektor konsumtif.

Realisasi pinjaman kepada nasabah itu naik pada 2008 dengan total keseluruhan Rp 7,6 Miliar lebih, masing-masing Rp 5 Miliar untuk sektor perdagangan, Rp 1,1 Miliar di sektor jasa, Rp 451 juta di sektor pertanian, dan Rp 822 juta di sektor konsumtif.

Realisasi itu mengalami penurunan pada 2009 dengan total Rp 7,1 Miliar, masing-masing Rp 4,1 Miliar untuk sektor perdagagan, Rp 895 juta di sektor jasa, Rp 226 juta di sektor pertanian, dan 993 juta di sektor konsumtif.

Sedang 2010 ini, hingga Juli lalu tercatat realisasi pinjaman sudah lebih dari Rp 3 Miliar, masing-masing Rp 1,9 Miliar untuk sektor perdagangan, Rp 524 juta di sektor jasa, Rp 93 juta di sektor pertanian, dan Rp 450 juta di sektor konsumtif.

"Lembaga tersebut bersifat non profit dengan keuntungan sebagai dana operasional. PT Adaro dalam hal ini hanya sebagai donator, tanpa ada hak interpensi apapun," tambahnya.

LKM Banua Bauntung diproyeksikan sebagai lembaga yang berfungsi untuk melayani masyarakat dan sebagai fasilitator bagi perkembangan UKM serta sarana sosial. LKM Bangun Banua diharapkan akan menjadi warisan yang dapat terus berkembang bahkan di saat PT Adaro sudah tidak lagi beroperasi. SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID